my personal life

kepada 9 pasien terbaik dari apt uchi

19.05


Semalaman merenenung tentang mengapa akhir-akhir ini aku membaca buku ini buku itu, film ini film itu, channel youtube ini dan itu, dari semua ini dan itu semua tidak terlepas dari psikologi, karena akhir-akhir ini sangat jenuh dengan pekerjaan yang berulang setiap hari tiba-tiba berfikir apakah cita-citaku sebenarnya menjadi seorang psikolog ya? Aku sangat suka mempelajari emosi, baik emosiku sendiri, maupun emosi orang lain. Aku selalu tertarik mempelajari mengapa aku bahagia, mengapa aku menangis, mengapa dia marah, mengapa emosi itu yang kita pilih untuk kita ekspresikan, aku benar-benar tertarik dengan itu semua. Setidaknya rasa penasaranku bisa menjadi obat kejenuhan pekerjaan sehari-hariku. 

Pekerjaan sehari-hariku adalah seperti ini, aku bekerja pada shift pagi dan siang yang kurang lebih mengambil 8 jam waktuku setiap harinya. Jika aku berkerja pada shift pagi pertama aku harus merencanakan kebutuhan obat depo farmasi untuk hari ini, melakukan permintaan obat ke gudang, menerima dan menatanya, mengemasi obat-obat fast moving untuk mempercepat pelayanan hingga pukul 09.00, setelah itu 50-200 pasien dari rawat jalan, 2-10 pasien dari IGD, 2-15 pasien rawat inap, 0-2 pasien OK VK ICU akan mulai ke apotek dan pekerjaan utamaku akan dimulai, jika beruntung ada 4 personal di shift pagi maka aku bisa memilih salah satu posisi entah sebagai penganalisis + penginput resep, penyiapan, juru racik atau pemberi edukasi pasien. Bukan rahasia jika kenyataan tidak pernah seideal itu, sehingga seringnya di pagi hari aku sendirian atau berdua dengan TTK gudang merangkap semua pekerjaan utama itu. Jika aku bekerja pada shift siang aku harus melanjutkan pekerjaan shift pagi yang tidak selesai, mengecek dan membuat perencanaan untuk pasien rawat inap selama satu hari, jujur bekerja pada shift siang lebih berat dari shift pagi.

Dari semua part-part tersebut, dalam post ini aku ingin menceritakan ketika aku sebagai pemberi edukasi. Posisi ini membutuhkan komunikasi dan kerja sama emosi yang baik, baik dari pemberi edukasi maupun pasien. Pasien mengekspresikan banyak sekali emosi, begitu juga aku. Berikut adalah 9 pasien yang memberikan pengalaman emosi terbaik kepadaku :'>

1. Pasien pertama, pasien pertama datang setiap hari kamis siang, pasien dari poli penyakit dalam, beliau adalah seorang Bapak, usianya sekitar 67 tahun, pertama kali bertemu dengan beliau di lantai 4 pada saat aku melakukan visite farmasi, jarang sekali aku melakukan visite karena tuntutan serangkaian pekerjaan yang kuceritakan pada paragraf dua. Beliau kurang lebih menghabiskan 10 hari di poli rawat inap, kemudian kontrol setiap satu bulan sekali. Jika probabilitasnya tepat, kita akan bertemu satu bulan sekali. Setiap bertemu beliau selalu tersenyum dan menyapa namaku, menunggu obat dengan sabar, memperhatikan setiap kalimatku pada setiap momen edukasi, kemudian dia berkata "kegiatan mba uchi sehari-hari apa selain bekerja?", dia menunjukkan mimik muka kecewa karena aku tidak melanjutkan kuliah lagi ke jenjang yang lebih tinggi setiap kontrol dan bertemu denganku, "jangan lupa minum air putih lho mba uchi, biar tetep sehat jika sekolah lagi". Biasanya aku hanya tersenyum, emote titik dua tanpa mulut di whatsapp. 

2. Pasien kedua, pasien kedua datang setiap hari rabu, pasien dari poli penyakit dalam juga, satu-satunya pasien yang pernah bertanya perbedaan candesartan, irbesartan dan valsartan bersama perbedaan pada setiap dosisnya. Beliau adalah seorang dokter hewan, selama edukasi beliau menjelaskan perbedaan-perbedaan dosisnya antara hewan dan manusia, menceritakan penelitian-penelitian terbarunya, beberapa klaim tidak benar dimasyarakat. Beliau selalu bisa menjawab mengapa telinga kuda berbalik ke belakang jika dia tidak nyaman denganku, mengapa ibu dan anak kucing tidak pernah akur ketika mereka dewasa. Aku sangat senang dan menanti setiap cerita Bapak tersebut :')

3. Pasien ketiga, pasien ketiga datang setiap hari selasa, pasien dari poli mata, seorang Bapak juga, pengacara atau bagian hukum lainnya pekerjaannya. Beliau adalah pasien BPJS dengan penyakit glaukoma sudut mata terbuka, harga obatnya mahal, tidak di cover BPJS. Dia mengeluarkan emosi marah dan kecewa atas kesalahan sistem yang berdasarkan pemahamanku itu bukan kesalahanku. Harga obat tersebut sekitar 400rb, sementara aturan yang dibuat bosku untuk semua pasien rawat jalan nilainya kurang dari itu sehingga aku tidak bisa memberikan dan menjelaskan prosedur tersebut kepada beliau, beliau tidak bisa menerima penjelasanku dan marah sehingga aku tiba-tiba menangis, aku masuk kembali ke dalam apotek, menceritakan kepada bosku, aku dilarang memberikan obat semahal itu kepada pasien dengan alasan prosedur itu, tetapi bosku memberikan obatnya diluar dari prosedur, pasien merasa senang dan mengira aku berbohong, aku merasa jadi kambing hitam dan jahat, life yha :'>

4. Pasien keempat, pasien yang hanya kutemui satu kali, masih berumur 14 tahun, pasien poli penyakit jiwa, datang ke apotek di sore hari. Aku mempunyai kebiasan memutar musik saat bekerja, biasanya musik instrumen penenang di pagi hari karena pasiennya banyak, dan musik kesukaanku di sore hari untuk membangunkan kembali semangatku. Musik kesukaanku baru bisa ku putar di sore hari karena bosku sudah pulang, bosku sangat tidak menyukai musik dan itu membuat bekerja dengannya sangat membosankan actually. Sore itu aku memutar lagu taylor swift, aku melihat pasienku menikmatinya, hingga akhirnya tiba waktunya aku mengedukasi obatnya, yang membuatku terkejut dia tidak menanyakan obatnya sama sekali, dia bertanya "mba uchi penggemar taylor swift juga ya? aku suka lho mba nungguin obat kalo lagu itu diputar", OMG pertama kalinya aku mendapat apresiasi dari pasien terhadap musik yang ku putar :'>

5. Pasien kelima, pasien ini datang setiap hari jum'at setiap bulannya, pasien dari poli paru, asma. Obatnya hanya satu macam, spiriva respimat. Tidak ada yang spesial selain kesabarannya. Dia hanya mendapat satu obat dan tetap bisa mengucapkan terimakasih setalah 4 jam atau lebih menunggu antrian, tidak pernah mengekspresikan emosi marah sedikitpun :')

6. Pasien keenam, satu-satunya pasien anak yang mendapat 3 botol asam valproat setiap bulannya, karena masalah sistem biasanya aku memberikan 2 botol dulu, botol ketiga menyusul, sehingga dipastikan dia akan ke apotek dua kali dalam sebulan dan selalu bilang "butuhnya tiga ya mba, jangan lupa botol terakhirnya". Pasien ini menjadi spesial karena tidak lelah mengingatkan untuk perbaikan sistem yang baik, setiap bangun tidur aku membaca WA nya, "jangan lupa ya mba", terimakasih ibu anda membuat saya merasa seperti apoteker yang benar-benar dibutuhkan dan itu penting :'>

7. Pasien ketujuh, pasien anak dari poli penyakit syaraf dan jiwa dengan sakit kejang berat. Obatnya ada 6 macam, dan mahal. Seperti pada poin ketiga, aturan yang membuatku tidak bisa memberikan semuanya, tetapi beliau bisa menerimanya, dengan teliti. Obatnya tidak belasan jumlahnya bisa puluhan, salah satunya depakote sebanyak 180 tablet. Karena tidak bisa diberikan sepenuhnya dan beliau benar-benar membutuhkannya untuk anaknya, beliau adalah satu-satunya pasien yang akan menghitung kembali jumlah obatnya tanpa merasa kecewa sedikitpun <': 

8. Pasien kedelapan, sepasang suami istri dari poli penyakit jantung, obatnya sama persis, banyak. Mereka berdua selalu sabar mendengarkanku menjelaskan satu persatu obatnya, dan selalu bertanya pertanyaan yang sama setiap bulannya, "maaf mba sudah berkeluarga kah?", setiap mendengar pertanyaan ini sebenarnya aku seperti disambar petir tetapi berusaha sekuatnya untuk tersenyum, aku hanya tersenyum dan mereka berdua melanjutkan kalimatnya "anak kami putri baru bertemu jodohnya pada usia 39 tahun, tidak apa-apa, nanti jodoh mba pasti ketemu tapi jangan lupa berdo'a, jangan lupa minta sama Allah ya mba uchi" ..... setiap ingat kedua pasien itu aku jadinya selalu menyebut nama cowo yang kusuka setiap sholat :'> 

9. Pasien kesembilan, pasien dari poli jantung, syaraf, penyakit dalam dan mata. Pasien yang mungkin setiap minggu akan kutemui. Pasien yang selalu membantuku menghitung jumlah obat dan penjadwalan obatnya, aku merasa sangat berguna sekali walaupun pasien hanya mengucapkan "terimakasih ya mba sudah dituliskan setiap jamnya pada  setiap etiket obat" ... :'>

begitulah cara kerja ke sembilan pasien ini dalam memicu ekspresi emosi terbaikku, terimakasih yha~

salam hangat,
uchi

my personal life

to be moral people

05.33


You need to be a better version of yourself, ok? and I do too

The Good Place follows Eleanor, Chidi, Jason and Tahani as they find themselves in the afterlife in the so-called "Good Place" but come to wonder if they really belong there. Each of the four main characters makes up one piece of the morality puzzle. Every one of the four has something to teach the others about how to live morally, with their strengths combined, the four together add up to one complete moral person.

Each central character in the good place has one piece of what it takes to be a good person, Eleanor is the will, Chidi is the conscience, Jason is a kindness on a personal scale, and Tahani is kindess on a larger community scale. Each of these elements is a very positive thing, but none is enough on its own. The characters eventually understand that they make each other better by being together and likewise, if we want to be moral people, we need all four of these components.

1. as the Will Eleanor implements the others' abstract desires and turns them into the action. She has the drive of act that the others often lack, especially Chidi. But Eleanor's drive to act can be either for good or more often when shes's left to her own devices, for bad. She need to learn what the philosopher Immanual Kant called "good will". According to Kant, good will has two parts (1) First, using reason to recognize the right thing to do, (2) and second acting based on this sense of moral obligation or duty. So the two steps are essentially the "good" plus the "will". Eleanor has the "will" part down. What she lacks, and need to gain from others is the "good". During the group's test, the judge evaluates Eleanor is selfishness, you're supposed to do good things because you're good, not because seeking of moral dessert, because without the good in "good will" there's nothing to prevent us for making purely self-serving choices. Eleanor starts filling in that missing first step and understanding how to reason out her moral choices. Thanks to lessons from her new friends, Chidi provides that the "reason" that sorts out the good from the bad, and Jason and Tahani provide the kindness and the desire to do good. But the kindness and good intentions of the three are useless without Eleanor's ability to carry them out. She becomes the decision maker of the group, and even feels like the leader most of the time because she has the will to make change happen.

2. Chidi represents the knowledge of right and wrong, and this basically makes him the conscience of the group. He knows virtually everything there is to know about how to be a good person, and this knowledge is essential for behaving in a moral way: without it, Eleanor, Jason and Tahani would remain ignorant, still, what Chidi lacks is the ability to translate his knowledge into the action. He's paralyzed by his hyper-awareness of the moral ramifications of every tiny decision. His test from the judge is simply to make a choice, and he feels miserably. He needs Eleanor to execute his reason in behavior, "the best version of me is just as much about my effect on the world around me as it is about my own egocentric self-image. This key revelation from Chidi finally makes this connection between his intentions and the result or impact of his actions. He spent his life trying to embody an abstract, perfect good. But since goodness has to be expressed in action, it can't be perfect except in theory "I spent my whole life trying to learn about right and wrong, and apparently, i failed. Chidi spent his life thinking about good instead of doing it, and that's why he ended up in the bad place, "indecision caused you so much agony in your life"

3. Jason embodies kindness on a personal level, unlike the other three, he actually had close supportive friendships while he was on earth. He's always understood the value of relationships with other people, which is something that Eleanor, Chidi and Tahani are still learning. He's very sweet, and his first instinct is always to be nice to people, "and i promise to always be nice to you". Showing others kindness is an important part of being a good person, but what Jason needs to gain from the others, and especially Tahani. is a broader understanding of how to be good, not just in the moment, but in the long run. He fails his test from judge because he doesn't even bother to figure out what the test really is : he sees the video games, something that will bring him immediate happiness, and he jump on it without examining the consequences. "Your test is about impulse control, but you never asked if you could opt not to play, I mean, you basically told me, an all-knowing judge, to just shut up and go away". So Jason needs to find the will to improve, and develop the foresight to consider how the moment at hand affects the future, "it's basic consequentialism the morality of an action is solely judged on its consequences".

4. While jason is kind to the individuals in his life, Tahani represents good works for the benefit of the community, and the world. She's a phillanthropist who has made the world a better place in a quantifiable way. The results of her charitable generousity are an indisputably positive, meaningful contribution to the greater good. But the problem is that her motivations are entirely selfish. Despite the good outcome, her behavior is lacking morality because is never grounded in love for other people, and that's what she needs to learn from Jason, "you are awesome, be nicer to yourself".


Eleanor and Chidi, and Jason and Tahani are paired as fake "soulmates", precisely because they're complete opposites. Michael assumes these people are so ill-matched, they'll torture each other. But ironically, Eleanor and Chidi, and arguably Jason and Tahani too become each other's soulmates. What makes them total opposites actually allows them to bring out the best in each other. Eleanor's will forces Chidi to stop being so hesitant and wishy-washy. And Chidi is a conscience helping Eleanor decipher right from wrong, he's the voice inside her head she keeps referring to. Jason shows Tahani the importance of sincerely meaning the kind things you do. And Tahani helps Jason understand the impact of his actions.

What is a soulmate, then?
We might picture our soulmate as someone we have a lot in common with, who's a mirror of us, made of the same stuff we are. But The Good Place is saying a soulmate is more the thing you're missing. And opposites don't just attract, they also complete each other. Fundamentally, your soulmate is just the person who makes you better than you can be without them. So the show telling us you don't necessarily need to find that perfect cosmically chosen match. you and your partner can develop into a soulmate by working on yourselves together. The Good Place's overriding message is that it's our love for one another that makes us good. Being a good person is hard work, but if you truly understand the value of the people in your life, it's hard work you want to do. 


beautiful hello

mengelola cara pandang di hari minggu

03.57


Hari minggu ini memutuskan untuk membersihkan taman kecil di rumah setelah beberapa minggu terakhir dihabiskan untuk menulis. Bangun tidur agak kesiangan, cuci muka, membuat secangkir susu hangat, mengambil headset, memutar musik kesukaan dan mulai berkebun. Tidak ada hal terlalu rumit dalam berkebun, pertama aku akan memantau apakah tanaman kecilku tumbuh dengan baik, kedua apakah rumputnya sudah cukup subur untuk dicabut? Aku menanam tanaman-tanaman dengan waktu tumbuh lumayan lama, seperti kaktus, sukulen, gerbera, zz plant dan lainnya, sehingga setiap aku mengeceknya setiap bulan tidak ada perubahan yang terlalu berarti, mereka selalu tampak muda :)


Lihat, mereka biasanya berubah setelah 6 bulan, kadang melihat mereka sering sedih juga karena selama enam bulan mereka menunjukkan perubahan signifikan, sementara hidupku? masih biasa-biasa aja dan itu tidak apa-apa :)

Kemudian apa yang biasanya ku temukan dan berkembang sangat cepat? Rumput liar. Ketika kamu mendengar kata rumput liar, kira-kira pikiran kamu mengarah ke arah positif, negatif atau biasa aja? Pikiran pertama yang terlintas di pikiran kamu itu kurang lebih bisa mendeskripsikan kepribadian kamu dalam memandang sesuatu. Pengalaman membersihkan rumput biasanya ku lakukan sendirian, terkadang bersama adek perempuanku, dan terkadang juga bersama ibuku. Aku termasuk orang yang sedikit tertarik dengan rumput, aku sengaja tidak membersihkannya setiap minggu karena menurutku mereka juga layak untuk hidup pada musim tertentu, rumput juga sama dengan tanaman hias lainnya, menghasilkan oksigen dan membersihkan udara untuk kita, jadi tidak ada salahnya memberi kesempatan kepada mereka untuk hidup sedikit lebih lama. Berbeda denganku, adekku selalu ingin membersihkannya setiap rumput mulai terlihat tumbuh karena dia berfikir rumput merugikan tanaman inangnya, itu akan menyakitkan bagi tumbuhan inang di sekitarnya, dan beberapa rumput mengundang ulat yang merugikan juga katanya, sementara ibuku sangat suka dengan rumput, dia menyukai rumput dan dia mencabutnya juga, sedikit tidak selaras tapi itu terjadi, setiap mencabut rumput ibu selalu berkata "ibu itu kayak rumput, kuat, bisa hidup dimana saja, tidak gampang menyerah untuk mati, dicabut pun akan tumbuh lagi"(?)

Ketiga cara pandang tersebut tidak ada yang salah kan? Menarik semenarik beberapa rumput yang berhasil ku potret <'3

akar rumput sangat panjang, minimal 2x dari tingginya

beberapa rumput terlihat tidak seperti rumput, beberapa terlihat seperti pohon kecil

jika rumput berhasil dicabut, mereka tidak mudah menyerah, mereka membawa banyak tanah bersama akarnya

jika kamu beruntung, kamu akan menemukan Ibu siput dan anak-anaknya selama membersihkan rumput, beberapa rumput meneduhkan bayi-bayi siput

Dimana pun posisi rumput berdiri di pikiran kalian, baik sebagai hal baik, hal buruk atau hal biasa aja, rumput mengajarkan kita bahwa cara pandang kita perlu dikelola. Kalian tidak perlu benar-benar memelihara rumput atau terlalu histeris mencabutnya ketika dia mulai tumbuh, tidak perlu terlalu memuji "wah rajinnya" ketika melihat tetangga kalian bersih-bersih rumput atau mengatakan "dia malas banget orangnya" ketika melihat rumput tumbuh panjang di halaman rumah tetangga. Cara pandang mereka dan kita berbeda, dan perbedaan itu indah :)

my personal life

apa yang membuatku tersenyum minimal satu bulan sekali?

16.28


Jika kalian mengikuti blogku dan telah membaca postinganku yang ini AFTER 8 MONTH THERAPY dan HE TELL ME I STILL HAVE A BIG HOPE kalian pasti paham kenapa aku harus ke dokter gigi minimal satu bulan sekali. Pada kedua pos tersebut aku membahas tentang mimpi dan terapi, tetapi dalam post ini aku mau membahas tentang beberapa hal di luar terapi yang menurutku sangat lucu untuk dikenang :)

Pertama kali memutuskan terapi itu adalah bulan april 2018, tahun 2018 adalah tahun kehilangan jati diri dan semua mimpi-mimpi besar seakan-akan hanyalah sebuah mimpi, seperti tidak akan terjadi, kecuali merapikan gigi. Banyak sekali dokter gigi di kota Malang, aku coba berdiskusi dengan beberapa dokter gigi yang ku kenal seperti di rumah sakit dan di klinik BPJS, tetapi mereka semua sepertinya tidak tertarik membantuku sehingga aku cari di google, akhirnya ketemu juga kliniknya. Aku chat adminnya alhamdulillah baik, kemudian karena resolusi kita tidak benar-benar sendirian aku pergi besama Eka, dia juga ingin merapikan giginya. Eka menjemputku di rumah sakit, kemudian kita berdua mencari tempatnya, pada map tempatnya sangat dekat tetapi setelah ditelusuri kita muter-muter dan tidak ketemu :(

Aku dan Eka memutuskan berhenti makan sebentar, tempat makannya di pinggir jalan, memasang harga lumayan, kita makan seperti tidak punya banyak uang, sehingga kita memesan apa yang kita perlukan. Momen yang membuat tertawa disini adalah (1) setiap secara random memilih makan dengan Eka, kenapa makanannya selalu tidak enak ya (?), (2) Eka mempunya helm yang lumayan bagus memang, sehingga dia selalu khawatir helmnya diambil orang, kemanapun dia ikut denganku dia akan membawa helmnya... seperti masuk ke tempat makan juga bawa helm....padahal sudah ada tukang parkirnya...mungkin suatu hari nanti dia akan takut suaminya diambil orang ya walopun sudah ada buku nikah (?), (3) Eka selalu bilang aku egois karena jas hujanku jas hujan single yang tidak bisa dibagi.... sehingga jika hujan kita terpaksa tidak kehujanan berdua agar tidak egois... hingga suatu ketika dia memutuskan membeli jas hujan single juga... jadi kita bisa sama-sama pakai jas hujan kita dan itu hanya terjadi satu kali karena setiap kali aku menjemputnya untuk bermain bersama dan mengingatkannya membawa jas hujan... dia tidak mau dan berfikir tidak akan turun hujan dan jika ternyata hujan terjadi dia akan mengatakan aku egois lagi... dan akhirnya hujan-hujanan berdua lagi hihihi

Akhirnya aku dan Eka sampai di klinik yang kami cari, ternyata kliniknya terlihat kecil dari luar, dari luar aku melihat cowo yang sepertinya kok tahu ya... kayaknya kita satu angkatan deh... apa perasaanku aja ya (?), kemudian kita masuk ke dalam, alhamdulillah mba resepsionisnya bhaiq, kita menjelaskan apa tujuan kita kesana, kemudian mbaknya mengintruksikan kita duduk di ruang tunggu untuk menunggu giliran bertemu dengan dokternya. Kita membuka-buka brosur sambil menunggu hingga giliran kita dipersilahkan masuk untuk diperiksa, kita tidak masuk sendiri-sendiri, kita masuk berdua. Aku mendapat giliran pertama untuk di periksa, rasanya tegang apalagi yang meriksa kayaknya familiar tapi aku gak kenal .-. , setelah diperiksa dan dijelaskan tentang rencana terapi yang akan kita lalui setahun kedepan, akhirnya aku memberanikan diri bertanya, aku panggilnya mas waktu itu bukan dok, gatau kenapa kayak canggung karena kita sepertinya seumuran,

"mas dulu kamu kuliah di FKUB ya?"
"iya" jawabnya
"makanya kayak tahu, uda lulus ya? soalnya banyak banget teman-teman yang masih koas"
"udah, alhamdulillah, pokoknya mau susah insyaallah bisa"

Dia bertanya sedikit juga tentang aku dan itu tidak terlalu penting, penjelasannya tentang terapiku terdengar agak berat, sehingga aku memikirnya beberapa hari hingga aku memutuskan untuk "oke uchi kamu bisa menjalankan terapi ini" dan datang kembali ke klinik tersebut, hal lucu yang selalu kuingat adalah setiap kali aku kontrol gigi untuk melihat perkembangan gigiku, dokter memintaku untuk senyum dan berkata

"coba se aku pengen liat, senyum" dia memberikan contoh untuk tersenyum
"malu...." jawabanku selalu seperti ini dan akhirnya aku tersenyum juga
"yang di sebelah sini udah bagus perkembangannya, sedikit lagi ya mba, yang sabar ya mba"

Banyak kesabaran yang diajarkan drg.Yusuf dan asisten yang membantunya, seperti mengajarkan tersenyum kepada pasien-pasiennya. Dari cerita ini kesimpulannya : untuk tersenyum aja aku harus belajar lo, aku membayar setiap bulan untuk belajar tersenyum, padahal kalian di luar sana bisa tersenyum kapanpun kalian mau, dan itu mudah bagi kalian, tidak perlu membayar, dan itu harus disyukuri, jangan dilupakan, jangan pelit senyum ya :) cheers!

my personal life

there is always good value for something bad

09.49

It's not a surprise that your income will increase or getting low sometimes, never assume that being employe in good company means having stable income. The good news: Allah is super wise, very fair. Our salary might be different, but the rules still same. I will tell you real story, there was a day when i just have twenty thousand in my wallet, which mean i could buy my breakfast, then finish, the money will gone. But what i actually do at that time? I skip my breakfast, i give that money to my aunt and she look so happy. My aunt doesn't have a stable job, she make cake by order, she is so old. Having that money for that time make her don't need make cake for one day, she feel happy, and i'm happy for her. Look how easily the value of money changed if you understand what i mean.

pelajaran hidup

2015 (3)

15.54

Jaman masih kuliah di UI itu, uchi seneng banget kalo bisa temenan sama temen yang pinter, bukan bermaksud membeda-bedakan kamu pinter kamu engga, ini definisi uchi sendiri, pinter bagi uchi kalo dia bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan uchi dengan jelas, dan uchi merasa terjawab, mungkin definisi pinter menurut kalian beda-beda tapi bagi uchi definisi pinter ya seperti itu.

Akhirnya uchi punya temen yang pinter namanya agus al-imam bahaudin kalau gasalah, dia pinter banget, bisa jadi murid favorite semua dosen-dosen, karena setiap pelajaran, bisa dibilang di semua pelajaran kalo ada pertanyaan yang susah nama agus di mention sama dosennya, "gmn gus pendapat kamu?" , seperti yang bisa uchi prediksi, agus selalu bisa jawab dengan perfect. Uchi udah pernah bilang sistem kuliah di UI itu, kreatifitas kita bener-bener dibebaskan, jadi sistem kuliahnya simpel aja dosennya cerita kompetensi apa aja yang harus kita capai dikelasnya, kemudian materinya dibagi rata setiap kelompok, kita presentasi sendiri dan kita yang tanya-tanya sendiri, kalo uda mentok dan gasesuai ekspektasi dosennya, baru mereka komentar.

Bisa dipastikan kalo sekelompok sama agus semuanya beres, gaperlu khawatir kalo presentasi dia selalu bisa jawab, pinter banget. Dalam geng farmasi UI, agus itu masuk kategori geng cumlaude (bahkan pemimpinnya karena dia pegang best IPK), dan termasuk laki-laki yang gasombong, mw berbaur, mw temenan sama orang walopun gasegeng, sama uchi misalnya.

Di UI itu ujiannya gasusah-susah banget, tapi menenangkan ke-khawatirannya yang mahal, setiap mau ujian kita pasti foto copy contoh soal kakak-kakak kelas kita, bisa foto copy sampe 5 semester diatas kita

"gus, ngapain sih kita harus foto copy semua soal-soal ini, padahal kalo kita belajar konsepnya kan gaperlu takut soal model apa aja"
"ini namanya beli ketenangan uchi, nnti juga ga gw baca kok uchi, cuma foto copy aja biar tenang, hehehe"
lucu banget kalo ingat ngantri-ngantri foto-copy yang menguras kantong, untuk  membeli "ketenangan" itu.

Dulu itu jamannya kalo mau ujian juga lucu banget, pasti farmasi itu nggerombol per-gengnya, terus tebak-tebak an, terus hafalan bareng, lihat geng-geng berhamburan di sekeliling uchi, uchi semakin khawatir, jadi jalan satu-satu nya adalah bawa headset, puter musik yang keras terus mulai belajar

"ayo gabung, belajar bareng uchi"
"engga deh gus, uchi belajarnya lebih bisa belajar sendiri dari pada bareng-bareng, kecuali kepepet belum belajar sama sekali, gapapa belajar bareng-bareng, bukan yang njawab, tapi ndengerin jawaban kalian, siapa tahu keluar"

lucu banget kalo ingat jaman itu, uchi juga paling suka kalo dosen belum datang, terus liat gengnya agus riwa-riwi ke kantin beli jajan, rasanya pengen juga, tapi takut pas ke kantin nnti dosennya datang. Terutama waktu pelajaran farmasi klinik.

"udah nanti uchi aja yang presentasi, kan uchi jago banget kliniknya"
kalo dibilang gt rasanya kepercayaan diri meningkat, tapi tetep aja, takut dosen di UI itu uda senior banget, kaku, kalimat kita harus tepat yang dia mau kalau mau selamat

yang paling sedih itu, waktu uchi ketemu agus di bis kuning, uchi kan galolos mata kuliah registrasi obat, haduh rasanya mata uda bengkak banget, sama ingus gaberhenti, pengen deh pake masker biar gaketahuan, gt deh rasanya punya pengalaman temenan sama anak pinter, tersiksanya lebih dalam disaat kita galulus dan teman kita dapat skor paling tinggi, dulu sih sedih banget, kalo sekarang malah lucu banget nginget-ngingetnya :D

pelajaran hidup

2015 (2)

05.58

masih mengingat tahun 2015, kalo ke kampus suka banget pake ransel ato tote bag singapore, dan pakai celana jeans berwarna biru, terus kudungnya suka kelihatan rambutnya sedikit, kata temen-temen "uchi kayak istri nya bupati aja", hahaha lucu banget kalo inget

kuliah di UI itu banyak banget geng-nya, ada geng FarCin (Farmasi Cina), geng cumlaude (yang IPKnya selalu di atas 3,5), geng tajir (yang anaknya orang kaya-kaya gitu), kalo uchi? gapasti karena ga masuk kategori ketiga-tiganya, nilai pas-pas an, cina jg engga, apalagi tajir, jauh banget hahaha, jadinya kita yang gamasuk ketiganya menamakan diri geng buangan ato apa gt ya

waktu kuliah disana uchi punya teman namanya rintis pranata, orangnya sederhana, suka bantu teman sekelas, tapi yang paling lucu dari rintis adalah apapun pelajaran dalam kelas, dia pasti angkat tangan sambil bilang "nama saya rintis pranata, saya ingin bertanya ......." , sampe anak-anak sekelas selalu ketawa pas dia tanya, gapernah satu kalipun dia gamemperkenalkan diri kemudian bertanya pada setiap kelas.

Kuliah di UI itu penuh dengan kerja kelompok, ada beberapa kelompok pembelajaran dimana uchi satu kelompok sama rintis, kalo gasalah rintis pernah cerita tentang wanita impiannya yaitu mela atau siapa ya, katanya dia mw jadi laki-laki yang bener, jadi laki-laki sejati, hahaha, pengen ketawa kalo ingat dia cerita nyamperin uchi di kursi depan kelas sendiri, dikira anak-anak diskusi belajar, padahal sebenarnya curhat, dan paling seneng lagi, pas cowo yang uchi suka datang terlambat, terus mukanya agak bete liat kita berdua, duh rasanya seneng, seneng banget bisa bikin cowo yang kita suka jeles hahaha

kata rintis ada beberapa tipe cowo yang gabisa bilang cinta, tapi bisa kita lihat dari mukanya yang sebel kalo kita sedang cowo lain, kata-kata rintis itu membuat uchi slalu curi-curi pandang ke cowo yang uchi suka kalo uchi sedang sama cowo lain, dan lama-lama uchi semakin yakin kalo cowo yang uchi suka suka uchi juga, waktu itu kita sedang latihan untuk acara besar, dari jauh uchi bisa liat cowo yang uchi suka, dalam hati uchi "ayo dong sampering uchi" , ternyata do'a uchi seperti di dengarkan, dia nyamperin uchi terus dia bilang

"selalu seneng liat uchi pake baju ini"

rasanya seneeeeeeeng banget waktu itu!

pelajaran hidup

2015

00.36

tiba-tiba keinget tahun 2015, tahun yang lucu banget, tahun-tahun bikin heboh temen sekelas, karena uchi di gosipin ganggu pacar orang, yaitu widyo budilaksono, padahal engga, waktu di Jakarta. Sebelum jadi Apoteker, uchi harus praktek profesi salah satunya di Industri Farmasi, karena uchi jurusan Industri. Di Jakarta hidup pas-pas an banget, sebisa mungkin harus berhemat, dan kebetulan widyo dan uchi sama-sama mengulang satu mata kuliah yaitu registrasi obat, dan kebetulan juga praktek di Industri yang sama yaitu PT. Actavis Indonesia, dan kebetulan juga widyo bawa motor, dan uchi naik angkot, karena widyo adalah laki-laki yang baik dia nawarin bareng-bareng berangkat pulangnya, dan uchi setuju karena kalo bareng-bareng bisa berhemat sehingga uangnya bisa ditabung buat nyetak laporan PKPA.

Walo gadenger langsung dari widyo, uchi tahu dari temen-temen kalo Widyo LDR an sama cewe nya, dan karena waktu kuliah di UI teman-teman suka banget gosip, sebisa mungkin uchi meredupkan gosip, caranya dengan diam-diam. Waktu itu uchi ngekos nya sekamar sama beta, dan tetanggaan sama mba gadis dan mba feny, karena diantar jemput kan bisa ketahuan kalo widyo pas jemput di kos, jadinya uchi mintanya di jemput ato diturunin di gang aja, dan yang lebih lucu lagi karena musim hujan uchi jadi beli jas hujan, agak mencurigakan sih gapunya motor kok beli jas hujan, jadinya helm sama jas hujan terpaksa uchi sembunyikan di kamar Bibi penjaga kos, padahal dia galak hahaha lucu banget

Karena setiap pulang dan berangkat praktek barengan, jadi sering cerita-cerita, karena widyo memang pawakannya ganteng, cewe-cewe satu Industri pada suka sama widyo, dan suka titip salam ke uchi, rasanya lucu kalo inget
"mba uchi pacarnya mas widyo ya? titip salam ya mba, ganteng banget masnya"
"bukan mba temennya, widyo uda punya pacar mba, ak jagain dia aja biar gadiganggu cewe-cewe" kataku bercanda
kalo inget lucu banget, belum lagi yang pada tanya jadwal terakhir kita praktek, agar mereka bisa siap-siap buat bisa foto sama widyo

Selama di Industri, uchi di tempatkan sebagai QC (Quality Control) dan Widyo di area produksi, karena kalo di area produksi selalu on-time pulangnya dari pada uchi yang selalu molor 2-3 Jam, Widyo selalu nungguin di dekat pos satpam, sama kariawan-kariawan laki-laki lainnya, mereka pada ngerokok dan widyo engga, ngelihat muka capek kasian juga, kalo uda sampe pos buat menyelamatkan widyo dari laki-laki ngerokok lainnya, uchi bilang "ayo wid", terus kita berdua jalan ke parkiran sama-sama

"hari ini kerjaan uchi banyak banget wid, capek, hari ini mw makan enak wid, uchi jangan diturunin di kosan, diturunin di hokben aja, walo gak kaya uchi pengen makan enak wid"
"widyo juga bukan orang kaya uchi"

hahaha pengen ketawa rasanya kalo inget,
"hari ini jangan langsung pulang ya, jalan-jalan dulu uchi"
"hah? kemana?"
"udah ikut aja"
kiraain widyo mau curhat ternyata malah ke Apotek ngerjain laporan hahaha, lucu banget

Pernah waktu itu, kita mw ronsen bareng, karena syarat masuk Industri itu, kemudian rumah sakitnya antri kan, uchi kelaperan dan waktu itu satu-satunya tempat makan adalah PH,
"kita tahan laper bareng-bareng aja ya wid" , rasanya bersyukur banget kalo ingat sekarang udah bisa cari uang sendiri, bisa makan enak kapan saja, dibandingin waktu itu

Paling seneng juga waktu uchi main ke area produksi, di ajarin sama staf nya widyo cara pake kostumnya, diajarin macam-macam alat untuk membuat obat, dari bahan baku sampai obatnya jadi, apalagi di pandu waktu nyasar-nyasar padahal udah lihat petanya berkali-kali, seneng ingatnya

sampai suatu saat, anak sekelas pada heboh, gosipin uchi ganggu cowo orang, uchi sedih banget waktu itu, karena dalam hati uchi gaada niat sama sekali seperti itu, temenan sama cowo memang lebih nyaman buat uchi sendiri, karena mereka gasuka gosip, jadi lebih berbobot tema obrolannya, karena uchi sedih, akhirnya uchi akhiri komunikasi apapun dengan widyo, berangkat pulang naik angkot sendiri walo jauuuh, dan takut banget naik angkot sebenernya waktu di jakarta, uchi sengaja lembur-lembur pulang malam biar gaketemu, selain itu uchi juga kesel sama temen-temen UI yang PKPA satu industri yang tega ngegosipin, kalo inget waktu itu jadi sedih, tapi kalo diinget-inget sekarang pengen ketawa-tawa sendiri ingatnya

pelajaran hidup

strength

04.06

walaupun sempat berkomitmen akan selalu menulis blog dalam bahasa inggris, tapi kali ini pengen nulis dalam bahasa Indonesia, kangen!
Akhir-akhir ini kondisi di rumah tidak stabil, Ibu suka marah-marah, sedikit-sedikit marah, tapi seneng selalu punya Eka yang menampung ketika sudah tidak kerasan di rumah, dan ada Bude yang selalu sedia makanan ketika mau berhemat, tapi lebih seneng lagi dapat pelajaran dari mas Putu.
Beberapa orang memang sering memotivasi orang lain tanpa dia sadari, ya mungkin masnya sendiri gasadar kalau memotivasi orang lain, motivasi tidak langsung dari cerita-cerita kehidupannya, terutama soal bagaimana kita bersikap kepada seorang Ibu, sebenarnya kalau mendengar permasalahannya, masalahku jadi berasa tidak ada apa-apanya, lucu, kalo cerita. Beberapa teman cowo, kebanyakan kalau bercerita selalu Ibunya baik, tidak ada masalah, sehingga aku merasa mungkin aku saja yang lemah, jadi masalahnya terasa berat, tetapi kadang kalo mendengar mas Putu bercerita apa adanya, terasa lebih jujur dan apa adanya, menurutku itu poin nya.

i go to places

so many beautiful things!

07.40

Feel like now I am in Rest Area of my life. I want to enjoy every breath of my life. I want to do everything I want to do. I want to take a rest for a while. Without any target, any purposes, and any limitation. I want to talk more with stranger, I want to see concerts i've never seen, I want to travel to place I always dream about, I want to hear more upbeat song, I want to sing out loud, I want to wear fancy dresses, I want to take meaningful picture, I want to taste new food, I want to dive in sea, I want to see more stars, sunset and sunrise, Indit told us.

Last day Pupud and I headed to beautiful garden called Batu Flower Garden for a natural capture energy. I had never been to Batu Flower Garden before, but after random stalking on Instagram I realised that it was quite a beautiful place, so we decided to get all dressed up to mark the occasion. 

We arrived into that place on Tuesday evening. Unfortunately the weather was on our side. Batu Flower Garden have some spot planned to capturing moments for us which meant that we actually got to try! 



This is waaaaay harder than it looks but I actually really enjoyed it!
I remember that good things come and so do bad things and always apologize when you've done something wrong but don't ever apologize for the way your eyes refuse to stop shinning, so we move on and take another meaningful picture.




It was a very ordinary place, the place I realised that I don't have to do anything but trust the process, trust the story, and enjoy the journey. It's doesn't really matter where we've become the finish line, the important things are the changes from this morning to when I fall asleep again, and how they happened with. An ice creams in the evening with someone beautiful, intellegent conversations at 02 pm while sharing the environment system, taking motorcycle to nowhere.


I love everything around me as a stamp collector loves his collection. Every story, every incident, every bit of conversation is raw material for me. Don't exist. Live. Get out, explore. Thrive. Challenge authority. Challenge yourself. Evolve. Become who you say you always will. Keep moving. Don't stop. Start the revolution. Become a better fighter. Just because everyone doesn't know your name doesn't mean you don't matter. Are you happy? Have you ever been happy? Did you exist or did you live? How did you thrive? Become a chameleon - fit in anywhere. Be rockstar - stand out everywhere. Do nothing. Do everything. Forget everything. Remember everyone. Care, don't just pretend. Listen to everyone. Making progress with every step you take "D



pelajaran hidup

Words Aptly Spoken - Bob Moorehead (December 28th 1995)

04.24


The paradox of our time in history is that we have taller buildings but shorter tempers, wider Freeways, but narrower viewpoints. We spend more, but have less, we buy more but enjoy less. We have bigger houses and smaller families, more conveniences, but less time. We have more degrees but less sense, more knowledge, but less judgment, more experts, yet more problems, more medicine, but less wellness.

We drink too much, smoke too much, spend too recklessly, laugh too little, drive too fast, get too angry, stay up too late, get up too tired, read too little, watch TV too much, and pray too seldom. We have multiplied our possessions, but reduced our values. We talk too much, love too seldom, and hate too often.

We've clean up the air, but polluted the soul. We've conquered the atom, but not our prejudice. We write more, but learn less. We plan more, but accomplish less. We've learned to rush, but not to wait. We build more computers to hold more information, to produce more copies than ever, but we communicate less and less.

These are times of fast foods and slow digestion, big men and small character, steep profit and shallow relationships.

These are the days of two incomes but more divorce, fancier houses, but broken homes. These are the days of quick trips, disposable diapers, throwaway morality, one night stands, overweight bodies, and pills that do everything from cheer, to quiet, to kill. It is a time when there is much in the showroom window and nothing in the stockroom. A time when technology can bring this letter to you, and a time when you can choose either to share this insight, or to just hit delete. 

pelajaran hidup

Beautiful Life - Bob Marley

07.32




Only ones in your life, I truly believe, you find someone who can completely turn your world around. You tell them things you've never shared with another soul and they absorb everything you say and actually want to hear more. You share hopes for the future, dreams that will never come true, goals that were never achieved and the many disappointments life has thrown at you. When something wonderful happens, you can't wait to tell them about it, knowing they will share in your excitement. They are not embarrassed to cry with you when you are hurting or laugh with you when you make a fool of yourself. Never do they hurt your feelings or make you feel like you are not good enough, but rather they build you up and show you the things about yourself that make you special and even beautiful. There is never any pressure, jealousy or competitiom but only a quiet calmness when they are around. You can be yourself and not worry about what they will think of you because they love ypu for who you are. The things that seem insignificant to most people such as a note, song or walk become invaluble treasures kept safe in your heart to cherish forever. Memories of your childhood come back and are so clear and vivid it's like being young again. Colours seem brighter and more brilliant. Laughter seems part of daily life where before it was infrequent or didn't exist at all. A phone call or two during the day helps to get you through a long day's work and always brings a smile to your face. In their presence, there's no need for continuous conversation, but you find you're quite content in just having them nearby. Things that never interested you before become fascinating because you know they are important to this person who is so special to you. You think of this person on every occasion and in everything you do. Simple things bring them to mind like a pale blue sky, gentle wind or even a storm cloud on the horizon. You open your heart knowing that there's a chance it may be broken one day and in opening your heart, you experience a love and joy that you never dreamed possible. You find that being vulnerable is the only way to allow your heart to feel true pleasure that's so real it scare you. You find strength in knowing you have a true friend and possibly a soul mate who will remain loyal to the end. Life seems completely different, exciting and worthwhile. You only hope and security is in knowing that they are a part of your life ")

pelajaran hidup

authenticity - Charlie Chaplin

06.36


1. As I began to love myself I understood how much it can offend somebody if I try to force my desires on this person, even though I knew the time was not right and the person was not ready for it, and even though this person was me. Today I call it respect.

2. As I began to love myself I stopped craving for a different life, and I could see that everything that surrounded me was inviting me to grow. Today I call it maturity.

3. As I began to love myself I understood that at any circumstance, I am in the right place at the right time, and everything happens at the exactly right moment. SO I could be calm. Today I call it self-confidence.

4. As I began to love myself I quit stealing my own time, and I stopped designing huge project for the future. Today, I only do what brings me joy and happiness, things I love to do and that make my heart cheer, and I do them in my own way and in my own rhythm. Todak I call it simplicity.

5. As I began to love myself I freed myself of anything that is no good for my health - food, people, things, situations, and everything that drew me down and away from myself. At first I called this attitude a healthy egoism. Today I know it is love of oneself.

6. As I began to love myself I quit trying to always be right, and ever since I was wrong less of the time. Today I discovered that is Modesty.

7. As I began to love myself I refused to go on living in the past and worrying about the future. Now, I only live for the moment, where everything is happening. Today I live each day, day by day, and I call it Fulfillment.

8. As I began to love myself I recognized that my mind can disturb me and it can make me sick. But as I connected it to my heart, my mind became a valuable ally. Today I call this connection wisdom of the heart.

9. We no longer need to fear arguments, confrontations or any kind of problems with ourselves or others. even stars collide, and out of their crashing new worlds are born. Today I know that is life 'D 


beautiful hello

saski - mutia

18.23







Minggu kemarin makan bareng muti sama saski, dua temen yang mempunyai personalitas kutub utara satunya kutub selatan, berasa netral keluar bareng mereka, ketika whatsapp line instagram tidak bs mengekpresikan cerita-cerita,, <'3

Eat Drink Chic

patience is key

20.12


Okay first of all there is nothing wrong about trying street food, but be careful please, don't take it randomly. I have super bad day last week, everywhere everytime I thinking a lot about my Job. I need share 'privately' with my close friend, I choose Pupud to listen my detail tinny problems in her home. She laughing at me, cz Im so expressive. I can control the intonation of my voice while telling the story, Pupud's mother inadvertently listened my story and she said "problems everywhere, when you are a student a lot of problems around you, also when you're work, just take it easy". I can stop laughing at it. Well after 'exclusive curhat sessions', we want try some noodles, and randomly we take that cwimie (see picture), and the taste is so baaaaaad plus so many disturbing street singers :'(
Patience is key, patience is key, patience is key .......

pelajaran hidup

when everything you're saying is true

01.43


Last week I was having one of the best times with my old friend, Oktavia Rahayu Adianingsih (Via). We have light to heavy discussions. We rarely meet, I rarely reply our class group chat, but once we are together, we couldn't stop express our emotion, sad and happy. We talk about research, about up down cancer story, about people around us, about 'unfair time', about things that we can't control in pharmacist research life. After graduate, our life is pretty different. We work in the same agency, but she is lecturer and I'm hospital pharmacist. She still busy with 'pharmacist research' as usual, even I wanna try research out of pharmacy. She ask a lot of how i do my last research on cancer, i can't stop laughing, because it has been so long. I almost forget about it. I tell her, I wanna try another research, on the art, on the photography. Research is relative, but both of us know that pharmacy world is so complicated, when we do research in this line, the output is "never clear" :D.

Anyway, we do research cz we just inspired in the hope on research that can make a difference and increase our meaningful of life. Make it sense!

pelajaran hidup

mengklasifikasikan "egois"

23.43







Akhir-akhir ini gw sharing beberapa konsep hidup gw sama beberapa orang, either secara random sama temen yg ngeshift sama gw ato sama sahabat gw. Gw bilang prinsip hidup gw, gw gabakal ngurusin hidup lo dan tlg juga jangan urusin hidup gw. Trus salah satu rekan kerja gw blg prinsip itu terlalu egois, kl km mati siapa yg ngurusin kalo pake prinsip 'lo lo gw gw' dia tanya, trus gw mikir itu bener tp kenapa hati gw gabisa nerima ya. Ternyata setelah beberapa jam gw pikir ulang, bukan terhadap semua urusan gw kaya gt. Gw gasuka org yg terlalu mengatur pribadi gw, seperti 'kok kerudungnya gt sih mba? kok sepatunya gt? kok uda pulang sih mba? kok hari minggu kerja sih mba? celananya kemana mba ko gawarna hitam?'. Jujur gw ngerasa keganggu banget sama statemen2 itu, padahal mw lo datang pagi pulang cepet bolos rambut warna merah pake celana pink tas lo merek apa sepatu lo berapa cm tingginya, whatever, gw gapeduli, itu hak lo memilih gaya hidup lo. Apakah dengan konsep hidup ini gw egois? 'Lo-lo, gw-gw' itu ternyata ga gw terapin ke semua aspek hidup gw, kayak misal lo jatuh di depan gw, masa iya gw diem aja? ya engga la. Jadi mungkin 'egois' ada klasifikasinya buat gw, dan maaf gw memang egois kalo sama masalah 'penampilan' 'cara gw menghandle hidup' itu privasi banget buat gw ;'(

#makasitemantemanmasukandanpandangannya

Eat Drink Chic

tahu campur dan prinsip hidup

17.38


Minggu kemarin jalan-jalan sama Pupud, awalnya sebelum puasa pengen banget ngajak Pupud makan baso disebelah rumahnya, tetapi tutup. Sehingga secara random mencoba tahu campur yang mana tidak jauh juga dari rumahnya. Tempatnya bersih, harganya tidak tahu, karena Pupud suka bayarin tiba-tiba, tapi yang jelas thumbs up buat rasa dan porsinya, pas banget. Pas makan tiba-tiba kepikiran, sebenarnya ternyata teman hidup yang uchi cari bukan yang 'gimana kalo kita masak sendiri dirumah agar lebih hemat' tetapi yang 'yuk mw makan dimana? dipinggir jalan boleh di restoran sekali-kali juga boleh, kita nikmati aja, besok siapa tahu dapat rejeki lain, km gaharus bisa masak banyak makanan buat hemat kok, kamu masak karena km suka, kamu masak yang km bisa aja, yang gabisa yaudah kita beri rejeki buat yang jualan yuk', iya kayaknya yang punya prinsip yang kayak gt yang uchi cari :'D

pelajaran hidup

you're not the only one :')

16.57



Sebelum menulis cerita ini, baca beberapa referensi cerita sejenis dan membandingkan dengan pengalaman pribadi saya. Mungkin banyak diantara kalian sering mendengar orang tua memberikan nasehat 'dijalanin aja, kerja dimana-mana rasanya sama aja, kelihatannya aja lebih baik' dan pendapat lainnya 'selalu coba, gaada salahnya mencoba peluang yang mungkin lebih baik, disana kalian bisa belajar dunia kerja dan pencarian jati diri', kedua statemen itu benar adanya tidak membenarkan atau menyalahkan salah satunya. Mungkin memasuki dunia kerja merupakan kontrak kecil dengan masalah di awal kehidupan dewasa kita. Bukan-bukan, bukan pekerjaannya yang bermasalah, 'job desc' di dunia kerja selalu lebih mudah dari kuliah kita seberapapun nilai kita dan berapa lama waktu yang kita habiskan untuk bisa dinyatakan sebagai sarjana. Permasalahan kita di dunia kerja adalah kita tidak bekerja sendirian, kita mempunyai lingkungan yang dinamakan lingkungan kerja. Disana ada berbagai macam karakter manusia. Sistem kerja tertulis tidak pernah menyusahkan kita, masalahnya ada pada 'sistem kerja tidak tertulis' yang diciptakan lingkungan kerja seperti contoh percakapan saya dengan Donna di atas, saya yakin masing-masing kalian pernah mengalami dan paham maksud saya. Tidak semua orang di lingkungan kerja kita lebih dewasa dari kita, atau lebih professional dari kita, atau lebih berwawasan dari kita, atau dididik seperti kita, dan sebaliknya. Waktu kita di dunia kerja dihabiskan karakter per karakter bukan detik per detik seperti kata suami mba Rizkita. Bukan tempat kerja kita yang salah, tanda tanyanya ada pada karakter-karakter didalamnya. Kita tidak pernah bisa merubah karakter per karakter, kita hanya bisa merubah karakter kita sendiri, keputusan kita, cara pandang kita. Kita cuma bekerja 8 jam, kita masih punya 16 jam untuk diri kita, untuk mimpi kita, kita sendiri yang tahu apa yang kita cari, jangan seolah-olah hidup kita dihabiskan 24 jam di dunia kerja. Mungkin kita belum menemukan 'pekerjaan ideal' untuk kita, atau kita belum bisa memanagemen waktu kita, dan selalu 'denial' terhadap apa-pun yang dunia sajikan kepada kita, tetapi once again kita bukan the only person in the complicated world :')

semoga kita selalu dikuatkan dijalan yang kita pilih ya Don :')


sincerely,
your lovely friends


uchi