my personal life

management moody

22.21

hari ini aku tidak dapat mengimaginasikan apa yang ku rasakan,,
aku tidak dapat merasakan senang ataupun sedih,,

"mimpi segelap apapun selalu memiliki sebatang bulpen"- mam





sastra uchi

on the side-lines wishes

07.03


Aku keluar dari taman kacang merah,, aku memasuki bukit paling putih,, putih menenangkan,, seperti ketika kau bisa menggenggam bunga edelwise. Disekelilingmu hanya ada pohon cemara berselimut salju, dingin mengelilingi segala pandangan. Aku melangkah setapak demi setapan dengan sepatu karetku, aku tidak merasa kedinginan, aku begitu menikmati lukisan Tuhan yang satu ini. Aku mulai mengumpulkan ranting-ranting cemara sebagai tempat bertahan, mengumpulkan setiap ranting dari satu sisi ke sisi lainnya. Berjalan bersama harapan. Dalam ukuran waktu aku berhasil membangun rumah kayuku, aku tinggal disana sesuai batas yang ditentukan Tuhan. Hingga suatu saat  kwaci (biji bunga matahari) mendatangiku.
“Powerberry aku ingin bisa membuat rumah kayu sepertimu,, aku terlalu lama menahan kedinginan”
“Bisa saja kwaci, asal kau bertekun dalam membangun,, tapi kenapa kau ingin membangun rumah kayu,, bukankah kamu sudah mempunyai rumah keramik yang jauh lebih bagus dari ini,,”
“rumah keramik itu milik matahari,, aku ingin mandiri”

Catatan Tuhan tidak pernah aku mengerti, kenapa kwaci dalam waktu sepersekian detik bisa meninggalkan musim panasnya dijepang hanya untuk membangun rumah kayu di bukit salju. Kwaci memiliki matahari, tapi cita-citanya tidak bergantung pada kemekarnya matahari. Dalam hatinya matahari adalah urutan kedua setelah Tuhan. Kwaci membangun rumah kayu hanya untuk meyakinkan matahari, bahwa senyuman matahari lebih dari sekedar musim panas, senyuman matahari tidak akan berhenti seiring berakhirnya musim, matahari akan tetap tersenyum, karena kwaci mempunyai rumah kayu disini, bukit salju.
Kami berdua seperti sepasang sepatu, melangkah kemanapun bersama untuk mengumpulkan kayu-kayu yang lebih kuat lagi, kayu-kayu untuk rumah kayu yang lebih kokoh, kayu-kayu yang akan membuat matahari tersenyum lebih indah lagi. Sepatu dan kayu-kayu. Kami berjalan sangat jauh, mempelajari segala jenis kayu untuk menopang hidup kami, hingga suatu saat rumah kayu kami begitu indah dan angin jahat menghancurkannya dalam waktu sehari. Apa yang kami lakukan ketika rumah kayu kami menyatu dengan tanah? Kami duduk memegang sisa kayu, tersenyum, dan bersyukur. Kami mengumpulkan kayu lagi, membangun lagi, dan kami telah terbiasa dengan kedatangan angin jahat. Bahkan untuk setiap angin jahat yang meredupkan semangat. Kami belajar bahwa hidup hanya untuk bersyukur, bersyukur atas setiap karya Tuhan.
Dalam hari yang tak terhitung, angin begitu sangat jahat. Rumah kayu kami roboh dalam tidur kami. Aku membuka mata, termenung dan menangis. Tapi kwaci mengajariku cara menangis  tanpa air mata. Dia terbangun menemaniku disisiku. Dia membersihkan sisa-sisa debu kayu dimukaku. Dia berdiri, tanpa sepatah kata, dia tersenyum, berlari mengumpulkan kayu-kayu lagi tanpa memintaku membantunya. Dia mengumpulkan banyak sekali kayu, dia membangun terus membangun hanya untuk mempertahankan senyum matahari dan membuatku bangga. Dia terus membangun karena dengan membangun dia bisa mendefinisikan arti kasih sayang, syukur, dan kekuatan jiwa bisa mengalahkan dinginnya angin salju tanpa kata-kata. Sejak hari itu kami berdua tersenyum, selalu tersenyum, terimakasih kwaci kecilku.
“Apakah dingin hanya bisa dilawan dengan rumah kayu powerberry?”
“Aku tidak tahu kwaci,, aku rasa Tuhan selalu punya banyak jalan,,”
Malam itu kami berdua melihat bintang. Mempelajari setiap rasi bintang. Menghubungkan satu bintang ke bintang lainnya. Kami menggambar sebuah perahu selam. Perahu kayu selam.
                “Apa yang terjadi ketika kita bisa menyebrangi lautan batu salju powerberry?”
                “kita bisa melewati dingin dengan cara Tuhan yang lain”
                “bagaimana agar kita bisa melewatinya”
                “kita buat perahu kayu selam”
                “ya kita akan membuatnya”
                “dengan penuh semangat”

Cita-cita baru terukir dalam hari-hari kami. Kami mencatat setiap jejak perjuangan perubahan nasib kami. Kami mempelajari perbedaan jenis kayu, ranting, daun. Kami belajar dengan seluruh jiwa kami. Hingga kami bertemu dengan “anggrek ungu” ditengah hutan cemara. Kami bertanya-tanya, mengapa ada anggrek yang bertahan dengan sangat cantik dalam dinginnya hutan cemara. Anggrek itu cantik, bertahan dari dingin dalam tenang. Aku berfikir, apakah anggrek setenang itu pernah bermimpi melawan dingin? Anggrek ungu mematuhi segala aturan alam, bersama aturan alam dia tenang dan bertahan. Dia mengetahui dengan detail segala aturan, setiap kejadian yang membuatnya bertahan. Kami belajar darinya bagaimana mengerti alam. Yaitu pahamilah alam, maka alam akan memahamimu. Karena anggrek ungu, kami benar-benar mengetahui setiap detail perbedaan kayu satu dengan kayu lainnya, ranting satu dengan ranting lainnya, mana yang lebih kuat diantaranya. Kami merangkai sketsa perahu kayu selam dalam beberapa waktu, bersama-sama.
Kami berhasil menggoreskan beberapa sketsa keajaiban Tuhan. Kami kembali kepohon kayu, dengan anggrek ungu tentunya. Kami ingin membuatnya tersenyum tanpa dingin dalam waktu yang dapat kami berikan. Pohon cemara terakhir telah kami lewati, tibalah kami dirumah kayu kami. Kami heran mengapa ada dua rumah kayu disini. Kami mendekati rumah asing yang sengaja dibangun berdekatan dengan rumah kayu kami. Kami melihat “tembakau” didalamnya. Tembakau yang selalu membuat dunia tersenyum, tembakau yang selalu siap dibakar untuk kebahagiaan orang lain, tembakau yang siap mendengarkan dunia. Tembakau adalah cermin dari “attitude is a little thing,, that makes a big different”. Pertanyaan utama dalam diriku “bukankah kau bisa dengan mudah melewati dingin dengan segala anugrah Tuhan yang diberikan padamu? Sama seperti tanaman-tanaman beruntung lainnya,, bahkan kau dianggap tinggi oleh dunia,, kenapa memilih rumah kayu untuk melawan dingin?”. Tanpa sepatah kata yang keluar dan segala tindakan yang dia kerjakan, aku mengerti jawabanya.
Tembakau membantu kami merangkai perahu kayu selam. Dia terus mempelajari setiap sketsa yang tertulis. Bertekun menyambungkan ranting satu ke ranting lainnya, daun satu kedaun lainnya. Hingga sketsa bukanlah sekedar sketsa, sketsa yang tergambar benar-benar dapat kami lihat. Kami melihat dari segala sudut harapan. Perahu kapal selam sempurna, hanya butuh api kasih sayang, api kasih sayang yang akan menguatkan kita dari segala gelombang, api kasih sayang yang akan membuat setiap dari kita tersenyum dalam segala kepahitan yang mungkin tergoreskan, api kasih sayang yang akan membuat kita tidak lupa apa arti semangat dan kehidupan. Aku berdiam melihat bayanganku ditepi lautan batu salju, “peri kecil bisakah kau keluar dari kerajaanmu didasar samudra? Peri kecil pernahkah kau mempunyai mimpi melawan dinginnya samudra bersamaku? Peri kecil maukah kau berjuang bersamaku sekali lagi dengan seluruh api kasih sayang yang dapat kau nyalakan?” aku kembali kepohon kayu, dan Tuhan mengizinkan peri kecil ada disampingku sekali lagi.
                Sekarang kami berlima tepat di tepi lautan batu salju dengan perahu kami. Kami menatap luas kedepan, menunggu izin Tuhan untuk mengarunginya dalam do’a.
Terimakasih kwaci, anggrek ungu, tembakau, dan peri kecil atas segala kasih sayang dalam pembuatan perahu kapal selam :”)




my personal life

Chapter: 2013, page: 12 of 365

01.50


Engga terasa beberapa hari lagi aku harus meninggalkan taman kacang merah, beberapa hari disini menumbuhkan rasa kehilangan tersendiri. Setiap helai kacang merah yang tercatat untuk dipanen, setiap helai kacang. Taman kacang merah hanya bertumbuh 2 kali dalam setahun, bersyukur sekali bisa menikmatinya tahun ini. Hari terakhir disini, aku menghabiskan malam di pohon raksasa pusat pengumpulan pemanenan. Disini aku mempunyai beberapa teman, salah satunya “tulip putih”. Tulip putih itu orangnya keras dan tekun, tapi wajahnya penuh kedamaian, cuek tapi easy going, dia gak pernah kenal sama yang namanya “sulit atau tidak sulit”,, yang ada “mau atau tidak mau”. Karakter seperti itu yang membuat hasil panennya selalu sempurna.
Sebenarnya aku tidak begitu mengenal tulip putih, aku kira sama seperti kebanyakan bunga tulip lainnya. Berbeda hanya karena warnanya putih dan mempunyai planet saturnus. Menurut peraturan bumi secara general, semua tulip kecuali yang berwarna putih akan memiliki saturnusnya. Tulip putih ini tidak bisa diprediksi peraturan, dia putih dan mempunyai saturnusnya. kami jarang berbicara panjang lebar, pembicaraan mungkin terjadi ketika kami sama-sama memanen jenis kacang tertentu diladang tertentu. Walaupun seperti itu tulip putih adalah bunga paling misterius sepanjang bunga yang kutemui,, sedikit bicara,, namun ketika bulan kembali menemani malam,, dia sering sekali tiba-tiba mengirim pesan “ci”,,“ngantuk ci”,, “kacangnya banyak ci”,,”kurang 1 kg ci”,, hampir setiap malam ada satu pesan diantara 4 pesan tersebut,, aku mengerti maksudnya,, hanya tidak menyangka kenapa dia bisa konsisten dengan warna putih yang mebuatnya berbeda,, bukan hanya secara visual namun jiwanya juga berbeda,, kebanyakan dari kami (bunga-bunga tulip) termasuk aku (powerberry) kami mengeluarkan emosi yang harus dikeluarkan seperti seharusnya melalui media sosial,, chat,, sahabat atau teman dekat. Ketika kita ingin mengeluarkan pola pemikiran kita,, kebanyakan dari kita ingin dimengerti oleh dunia,, kita terus menerus seperti itu walaupun dunia tidak akan menjawab emosi kita,, dunia hanya bisa mendengar,, dan akhirnya kita sendiri yang akan mengambil kesimpulan dari emosi kita.
Tulip putih mengerti kepada siapa dia bisa membagi emosinya,, dia tidak ingin membagi emosi kepada dunia yang telah dipenuhi emosi,, dia menjaga perkataan yang tidak perlu terungkap,, baginya dua kalimat cukup untuk menjaga kestabilan jiwanya,, dua kata cukup untuk menekan segala prediksi buruknya,, dua kata cukup untuk menetralisir kekhawatiran dalam dirinya,, dia sadar kekhawatirannya sebading dengan kekuatan jiwanya,, keduanya berjalan bersamaan,, mempelajari apa yang seharusnya dipelajari,, menikmati apa yang seharusnya di nikmati,, balance,,
Dalam diriku, sebelumnya aku tidak menyangka bahwa powerberry bisa berteman dengan tulip putih yang sempurna. Seperti harvestmoon dan the sims,, tujuan kita sama namun dunia kita berbeda. Oleh karenanya aku sering heran dalam diamku,, kenapa dia menyampaikan seluruh emosinya padaku,, mengajariku ketenangan dengan caranya,, mengajariku keseimbangan,, mengajariku dunia mana yang bisa menyatukan dunia lainnya,, bagaimana aku memahaminya?,, tepat ketika tulip putih mengatakan “aku baca blog ucii”,, dari sana aku mengerti bahwa tulip putih tidak secuek kelihatannya,, easy going,, dia mengetahui bagaimana memahami orang tanpa kalimat panjang,, dia sangat suka mempelajari kehidupan orang-orang disekitarnya,, dia mempelajari melalui caranya yang mungkin tak dapat kuprediksi,, seperti membaca blogku,, dia membaca dan mengatakannya padaku,, sebelumnya sahabat-sahabatku tidak pernah ada yang seperti dia,, hmm memang tulip putih itu tanaman paling unik di taman kacang merah,, dalam beberapa waktu kami menjadi lebih akrab,,
Suatu malam di penghujung berakhirnya taman kacang merah,, kami bercakap tentang apa yang kita baca baik blog,, tumblr,, novel melalui sebuah chat,, hingga dia membicarakan saturnusnya :),, rasanya aku ingin tertawa melihat setiap kalimat dalam chatnya,, baru pertama kalinya ada seseorang yang meminta pendapatku tentang orang yang disayanginya,, akhir dari pembicaraan kita,,
Powerberry : kamu tau cerita mars dan venus?
tulip putih : enggak tau ci,,
powerberry : “jadi pada jaman dahulu kala terdapat 2 makhluk laki-laki dari mars dan perempuan dari venus mereka mempunyai karakter masing-masing,, hingga mereka dipertemukan di planet yang bernama bumi,, ketika dibumi sedikit demi sedikit kepribadian mereka memudar,, venus berusaha menjadi yang diinginkan mars,, begitu juga dengan mars,, berusaha seperti apa yang diinginkan venus,, hal sepeti itu yang membuat kemiskinan kasih sayang,, hingga suatu saat mereka masing-masing menyendiri,, venus bukan "harus menjadi" yang diinginkan mars,, tapi venus "hanya" harus mengerti bahwa mars mempunyai goa,,"goa" disini berarti adalah ketika seorang pria menyendiri,, ketika seorang pria menyendiri/ memilih diam = dia sebenarnya berada di dalam sebuah gua,, dimana venus/wanita selalu ingin mengetahui apa yang dilakukan mars didalam gua tersebut,, padahal mars tidak suka yang demikian,, sebenarnya ketika dia berada didlm gua,,biarkan dia didlm gua,, karena sebenernya didalam gua tersebut dia memajang fotomu dengan sangat besar,, :)
Tulip putih : WOW aku tau mksdnya ci,, thanks ci,, kmu kyke pinter memahami orang lain yahhaha

setelah chat ditutup, aku bertanya dalam diriku “seandainya akhir ceritaku bisa seperti tulip putih dengan saturnusnya” :’)

I walked through the door with you, the air was cold,,
But something about it felt like home somehow,,
And I left my scarf there at your sister's house,,
And you still got it in your drawer even now,,

Oh, your sweet disposition and my wide-eyed gaze,,
We're singing in the car getting lost upstate,,
Autumn leaves falling down like pieces into place,,
And I can picture it after all these days,,

And I know it's long gone,,
And that magic's not here no more,,
And I might be okay,,
But I'm not fine at all,,

'Cause there we are again, on that little town street,,
You almost ran the red 'cause you were looking over me,,
Wind in my hair, I was there, I remember it all too well,,

Photo album on the counter, your cheeks were turning red,,
You used to be a little kid with glasses in a twin-size bed,,
Your mother's telling stories about you on the tee ball team,,
You tell me about your past, thinking your future was me,,

And I know it's long gone,,
And there was nothing else I could do,,
And I forget about you long enough,,
To forget why I needed to,,

'Cause there we are again, in the middle of the night,,
We dance around the kitchen in the refrigerator light,,
Down the stairs, I was there, I remember it all too well, yeah

Maybe we got lost in translation, maybe I asked for too much,,
And maybe this thing was a masterpiece 'til you tore it all up,,
Running scared, I was there, I remember it all too well,,

And you call me up again just to break me like a promise,,
So casually cruel in the name of being honest,,
I'm a crumpled up piece of paper lying here,,
'Cause I remember it all, all, all too well,,

Time won't fly, it's like I'm paralyzed by it,,
I'd like to be my old self again, but I'm still trying to find it,,
After plaid shirt days and nights when you made me your own,,
Now you mail back my things and I walk home alone,,

But you keep my old scarf from that very first week,,
'Cause it reminds you of innocence and it smells like me,,
You can't get rid of it 'cause you remember it all too well, yeah

'Cause there we are again, when I loved you so,,
Back before you lost the one real thing you've ever known,,
It was rare, I was there, I remember it all too well,,

Wind in my hair, you were there, you remember it all,,
Down the stairs, you were there, you remember it all,,
It was rare, I was there, I remember it all too well,,


sastra uchi

Dark turns to light

04.25


Walaupun aku masih berada dalam taman kacang merah, ternyata aku masih dapat menemui senja disini. Satu hari tanpa senja itu seperti kehilangan mahkota dandelion. Senja disini mewakili beberapa rasa, mewakili selipan buku tersembunyi. Bagaimana jika dalam buku yang kau tulis rapi, ternyata ada satu lembar kertas yang terselip. Mirip seseorang tak terprediksi dalam suatu cerita. Kertas itu sadar ada dalam sebuah buku, begitu juga pemeran tersembunyi itu. Dia sadar melangkah dalam ceritamu tapi kamu tak pernah menyadari kehadirannya. Dia bersembunyi disetiap pohon-pohon bakau, dibalik tirai gandum, dibawah bukit berbintang, disetiap untai ilalang, mengalir bersama air hujan tak terlihat. Dia memperhatikanmu, dia mengerti dirimu tanpa diminta. Selipan kertas tersebut terlalu banyak diskip dalam sebuah cerita, meninggalkan kesan tersendiri bagi akhir cerita.
Sore itu bersama kacang-kacang merah Tuhan, aku mempunyai satu permainan. Seperti memori kristal salju. Aku genggam kristal itu dan kututup mataku. Tuhan pernah mengenalkanku dengan makhluk yang sangat menyayangiNya. Selayaknya rumput-rumput biru disepanjang perjalanan, aku belajar dari sikap baiknya. Dia itu bukan rumput biru, tapi rumput ungu, aku bisa merasakan sikapnya berbeda kepadaku, namun aku selalu mengatakan itu rumput, aku tidak pernah memperjelas “biru” atau “ungu”. Aku tidak memperjelas karena aku tahu ada seseorang yang lebih pantas akan kesetiaannya kepada rumput ungu. Aku tahu kertas yang terselip hanya pantas untuk orang yang memperhatikan setiap lembar bukunya, bukan orang sepertiku yang jarang memilah setiap kertas yang terselip.
Maka bagaimana kalau Tuhan mulai menumbuhkan kasih sayang itu? Kasih sayang itu mulai bertumbuh ketika hanya rumput ungu yang tersenyum ketika kau bernyanyi diantara semua rumput-rumput, menemani lelahnya malammu dalam proyekmu, menghargai setiap tindakanmu, menunggu ramuan terbaikmu,, maka mintalah Tuhan menjaga kasih sayangmu karena hanya Dia yang Maha membolak-balikan perasaan.