hari ini aku tidak dapat mengimaginasikan apa yang ku rasakan,,
aku tidak dapat merasakan senang ataupun sedih,,
"mimpi segelap apapun selalu memiliki sebatang bulpen"- mam
Aku keluar dari taman kacang merah,, aku
memasuki bukit paling putih,, putih menenangkan,, seperti ketika kau bisa
menggenggam bunga edelwise. Disekelilingmu hanya ada pohon cemara berselimut
salju, dingin mengelilingi segala pandangan. Aku melangkah setapak demi setapan
dengan sepatu karetku, aku tidak merasa kedinginan, aku begitu menikmati
lukisan Tuhan yang satu ini. Aku mulai mengumpulkan ranting-ranting cemara
sebagai tempat bertahan, mengumpulkan setiap ranting dari satu sisi ke sisi
lainnya. Berjalan bersama harapan. Dalam ukuran waktu aku berhasil membangun
rumah kayuku, aku tinggal disana sesuai batas yang ditentukan Tuhan. Hingga
suatu saat kwaci (biji bunga matahari)
mendatangiku.
“Powerberry aku ingin bisa membuat rumah kayu
sepertimu,, aku terlalu lama menahan kedinginan”
“Bisa saja kwaci, asal kau bertekun dalam
membangun,, tapi kenapa kau ingin membangun rumah kayu,, bukankah kamu sudah
mempunyai rumah keramik yang jauh lebih bagus dari ini,,”
“rumah keramik itu milik matahari,, aku ingin
mandiri”
Catatan Tuhan tidak pernah aku mengerti,
kenapa kwaci dalam waktu sepersekian detik bisa meninggalkan musim panasnya
dijepang hanya untuk membangun rumah kayu di bukit salju. Kwaci memiliki
matahari, tapi cita-citanya tidak bergantung pada kemekarnya matahari. Dalam
hatinya matahari adalah urutan kedua setelah Tuhan. Kwaci membangun rumah kayu
hanya untuk meyakinkan matahari, bahwa senyuman matahari lebih dari sekedar
musim panas, senyuman matahari tidak akan berhenti seiring berakhirnya musim,
matahari akan tetap tersenyum, karena kwaci mempunyai rumah kayu disini, bukit
salju.
Kami berdua seperti sepasang sepatu, melangkah
kemanapun bersama untuk mengumpulkan kayu-kayu yang lebih kuat lagi, kayu-kayu
untuk rumah kayu yang lebih kokoh, kayu-kayu yang akan membuat matahari
tersenyum lebih indah lagi. Sepatu dan kayu-kayu. Kami berjalan sangat jauh,
mempelajari segala jenis kayu untuk menopang hidup kami, hingga suatu saat
rumah kayu kami begitu indah dan angin jahat menghancurkannya dalam waktu
sehari. Apa yang kami lakukan ketika rumah kayu kami menyatu dengan tanah? Kami
duduk memegang sisa kayu, tersenyum, dan bersyukur. Kami mengumpulkan kayu
lagi, membangun lagi, dan kami telah terbiasa dengan kedatangan angin jahat. Bahkan
untuk setiap angin jahat yang meredupkan semangat. Kami belajar bahwa hidup
hanya untuk bersyukur, bersyukur atas setiap karya Tuhan.
Dalam hari yang tak terhitung, angin begitu
sangat jahat. Rumah kayu kami roboh dalam tidur kami. Aku membuka mata,
termenung dan menangis. Tapi kwaci mengajariku cara menangis tanpa air mata. Dia terbangun menemaniku
disisiku. Dia membersihkan sisa-sisa debu kayu dimukaku. Dia berdiri, tanpa
sepatah kata, dia tersenyum, berlari mengumpulkan kayu-kayu lagi tanpa
memintaku membantunya. Dia mengumpulkan banyak sekali kayu, dia membangun terus
membangun hanya untuk mempertahankan senyum matahari dan membuatku bangga. Dia
terus membangun karena dengan membangun dia bisa mendefinisikan arti kasih
sayang, syukur, dan kekuatan jiwa bisa mengalahkan dinginnya angin salju tanpa
kata-kata. Sejak hari itu kami berdua tersenyum, selalu tersenyum, terimakasih
kwaci kecilku.
“Apakah dingin hanya bisa dilawan dengan rumah
kayu powerberry?”
“Aku tidak tahu kwaci,, aku rasa Tuhan selalu
punya banyak jalan,,”
Malam
itu kami berdua melihat bintang. Mempelajari setiap rasi bintang. Menghubungkan
satu bintang ke bintang lainnya. Kami menggambar sebuah perahu selam. Perahu
kayu selam.
“Apa yang terjadi ketika kita bisa
menyebrangi lautan batu salju powerberry?”
“kita bisa melewati dingin
dengan cara Tuhan yang lain”
“bagaimana agar kita bisa
melewatinya”
“kita buat perahu kayu selam”
“ya kita akan membuatnya”
“dengan penuh semangat”
Cita-cita baru terukir dalam hari-hari kami. Kami
mencatat setiap jejak perjuangan perubahan nasib kami. Kami mempelajari
perbedaan jenis kayu, ranting, daun. Kami belajar dengan seluruh jiwa kami. Hingga
kami bertemu dengan “anggrek ungu” ditengah hutan cemara. Kami bertanya-tanya,
mengapa ada anggrek yang bertahan dengan sangat cantik dalam dinginnya hutan
cemara. Anggrek itu cantik, bertahan dari dingin dalam tenang. Aku berfikir,
apakah anggrek setenang itu pernah bermimpi melawan dingin? Anggrek ungu
mematuhi segala aturan alam, bersama aturan alam dia tenang dan bertahan. Dia
mengetahui dengan detail segala aturan, setiap kejadian yang membuatnya
bertahan. Kami belajar darinya bagaimana mengerti alam. Yaitu pahamilah alam,
maka alam akan memahamimu. Karena anggrek ungu, kami benar-benar mengetahui
setiap detail perbedaan kayu satu dengan kayu lainnya, ranting satu dengan
ranting lainnya, mana yang lebih kuat diantaranya. Kami merangkai sketsa perahu
kayu selam dalam beberapa waktu, bersama-sama.
Kami berhasil menggoreskan beberapa sketsa
keajaiban Tuhan. Kami kembali kepohon kayu, dengan anggrek ungu tentunya. Kami
ingin membuatnya tersenyum tanpa dingin dalam waktu yang dapat kami berikan.
Pohon cemara terakhir telah kami lewati, tibalah kami dirumah kayu kami. Kami
heran mengapa ada dua rumah kayu disini. Kami mendekati rumah asing yang
sengaja dibangun berdekatan dengan rumah kayu kami. Kami melihat “tembakau”
didalamnya. Tembakau yang selalu membuat dunia tersenyum, tembakau yang selalu
siap dibakar untuk kebahagiaan orang lain, tembakau yang siap mendengarkan
dunia. Tembakau adalah cermin dari “attitude is a little thing,, that makes a
big different”. Pertanyaan utama dalam diriku “bukankah kau bisa dengan mudah
melewati dingin dengan segala anugrah Tuhan yang diberikan padamu? Sama seperti
tanaman-tanaman beruntung lainnya,, bahkan kau dianggap tinggi oleh dunia,,
kenapa memilih rumah kayu untuk melawan dingin?”. Tanpa sepatah kata yang
keluar dan segala tindakan yang dia kerjakan, aku mengerti jawabanya.
Tembakau membantu kami merangkai perahu kayu
selam. Dia terus mempelajari setiap sketsa yang tertulis. Bertekun menyambungkan
ranting satu ke ranting lainnya, daun satu kedaun lainnya. Hingga sketsa
bukanlah sekedar sketsa, sketsa yang tergambar benar-benar dapat kami lihat.
Kami melihat dari segala sudut harapan. Perahu kapal selam sempurna, hanya
butuh api kasih sayang, api kasih sayang yang akan menguatkan kita dari segala
gelombang, api kasih sayang yang akan membuat setiap dari kita tersenyum dalam
segala kepahitan yang mungkin tergoreskan, api kasih sayang yang akan membuat
kita tidak lupa apa arti semangat dan kehidupan. Aku berdiam melihat bayanganku
ditepi lautan batu salju, “peri kecil bisakah kau keluar dari kerajaanmu didasar
samudra? Peri kecil pernahkah kau mempunyai mimpi melawan dinginnya samudra
bersamaku? Peri kecil maukah kau berjuang bersamaku sekali lagi dengan seluruh
api kasih sayang yang dapat kau nyalakan?” aku kembali kepohon kayu, dan Tuhan
mengizinkan peri kecil ada disampingku sekali lagi.
Sekarang kami berlima tepat di
tepi lautan batu salju dengan perahu kami. Kami menatap luas kedepan, menunggu
izin Tuhan untuk mengarunginya dalam do’a.
Terimakasih
kwaci, anggrek ungu, tembakau, dan peri kecil atas segala kasih sayang dalam
pembuatan perahu kapal selam :”)
Engga terasa
beberapa hari lagi aku harus meninggalkan taman kacang merah, beberapa hari
disini menumbuhkan rasa kehilangan tersendiri. Setiap helai kacang merah yang
tercatat untuk dipanen, setiap helai kacang. Taman kacang merah hanya bertumbuh
2 kali dalam setahun, bersyukur sekali bisa menikmatinya tahun ini. Hari
terakhir disini, aku menghabiskan malam di pohon raksasa pusat pengumpulan
pemanenan. Disini aku mempunyai beberapa teman, salah satunya “tulip putih”. Tulip
putih itu orangnya keras dan tekun, tapi wajahnya penuh kedamaian, cuek tapi
easy going, dia gak pernah kenal sama yang namanya “sulit atau tidak sulit”,,
yang ada “mau atau tidak mau”. Karakter seperti itu yang membuat hasil panennya
selalu sempurna.
Sebenarnya
aku tidak begitu mengenal tulip putih, aku kira sama seperti kebanyakan bunga
tulip lainnya. Berbeda hanya karena warnanya putih dan mempunyai planet
saturnus. Menurut peraturan bumi secara general, semua tulip kecuali yang
berwarna putih akan memiliki saturnusnya. Tulip putih ini tidak bisa diprediksi
peraturan, dia putih dan mempunyai saturnusnya. kami jarang berbicara panjang
lebar, pembicaraan mungkin terjadi ketika kami sama-sama memanen jenis kacang
tertentu diladang tertentu. Walaupun seperti itu tulip putih adalah bunga
paling misterius sepanjang bunga yang kutemui,, sedikit bicara,, namun ketika
bulan kembali menemani malam,, dia sering sekali tiba-tiba mengirim pesan “ci”,,“ngantuk
ci”,, “kacangnya banyak ci”,,”kurang 1 kg ci”,, hampir setiap malam ada satu
pesan diantara 4 pesan tersebut,, aku mengerti maksudnya,, hanya tidak menyangka
kenapa dia bisa konsisten dengan warna putih yang mebuatnya berbeda,, bukan
hanya secara visual namun jiwanya juga berbeda,, kebanyakan dari kami
(bunga-bunga tulip) termasuk aku (powerberry) kami mengeluarkan emosi yang
harus dikeluarkan seperti seharusnya melalui media sosial,, chat,, sahabat atau
teman dekat. Ketika kita ingin mengeluarkan pola pemikiran kita,, kebanyakan
dari kita ingin dimengerti oleh dunia,, kita terus menerus seperti itu walaupun
dunia tidak akan menjawab emosi kita,, dunia hanya bisa mendengar,, dan
akhirnya kita sendiri yang akan mengambil kesimpulan dari emosi kita.
Tulip putih
mengerti kepada siapa dia bisa membagi emosinya,, dia tidak ingin membagi emosi
kepada dunia yang telah dipenuhi emosi,, dia menjaga perkataan yang tidak perlu
terungkap,, baginya dua kalimat cukup untuk menjaga kestabilan jiwanya,, dua
kata cukup untuk menekan segala prediksi buruknya,, dua kata cukup untuk
menetralisir kekhawatiran dalam dirinya,, dia sadar kekhawatirannya sebading
dengan kekuatan jiwanya,, keduanya berjalan bersamaan,, mempelajari apa yang
seharusnya dipelajari,, menikmati apa yang seharusnya di nikmati,, balance,,
Dalam diriku, sebelumnya aku tidak menyangka bahwa
powerberry bisa berteman dengan tulip putih yang sempurna. Seperti harvestmoon
dan the sims,, tujuan kita sama namun dunia kita berbeda. Oleh karenanya aku
sering heran dalam diamku,, kenapa dia menyampaikan seluruh emosinya padaku,,
mengajariku ketenangan dengan caranya,, mengajariku keseimbangan,, mengajariku
dunia mana yang bisa menyatukan dunia lainnya,, bagaimana aku memahaminya?,,
tepat ketika tulip putih mengatakan “aku baca blog ucii”,, dari sana aku
mengerti bahwa tulip putih tidak secuek kelihatannya,, easy going,, dia
mengetahui bagaimana memahami orang tanpa kalimat panjang,, dia sangat suka mempelajari
kehidupan orang-orang disekitarnya,, dia mempelajari melalui caranya yang mungkin
tak dapat kuprediksi,, seperti membaca blogku,, dia membaca dan mengatakannya
padaku,, sebelumnya sahabat-sahabatku tidak pernah ada yang seperti dia,, hmm
memang tulip putih itu tanaman paling unik di taman kacang merah,, dalam
beberapa waktu kami menjadi lebih akrab,,
Suatu malam di penghujung berakhirnya taman kacang
merah,, kami bercakap tentang apa yang kita baca baik blog,, tumblr,, novel melalui
sebuah chat,, hingga dia membicarakan saturnusnya :),, rasanya aku ingin tertawa melihat setiap kalimat
dalam chatnya,, baru pertama kalinya ada seseorang yang meminta pendapatku
tentang orang yang disayanginya,, akhir dari pembicaraan kita,,
Powerberry
: kamu tau cerita mars dan venus?
tulip
putih : enggak tau ci,,
powerberry
: “jadi pada jaman dahulu kala terdapat 2 makhluk laki-laki dari mars dan
perempuan dari venus mereka mempunyai karakter masing-masing,, hingga mereka
dipertemukan di planet yang bernama bumi,, ketika dibumi sedikit demi sedikit
kepribadian mereka memudar,, venus berusaha menjadi yang diinginkan mars,, begitu
juga dengan mars,, berusaha seperti apa yang diinginkan venus,, hal sepeti itu yang
membuat kemiskinan kasih sayang,, hingga suatu saat mereka masing-masing
menyendiri,, venus bukan "harus menjadi" yang diinginkan mars,, tapi
venus "hanya" harus mengerti bahwa mars mempunyai goa,,"goa"
disini berarti adalah ketika seorang pria menyendiri,, ketika seorang pria
menyendiri/ memilih diam = dia sebenarnya berada di dalam sebuah gua,, dimana
venus/wanita selalu ingin mengetahui apa yang dilakukan mars didalam gua
tersebut,, padahal mars tidak suka yang demikian,, sebenarnya ketika dia berada
didlm gua,,biarkan dia didlm gua,, karena sebenernya didalam gua tersebut dia
memajang fotomu dengan sangat besar,, :)”
Tulip putih : WOW aku tau mksdnya ci,, thanks ci,, kmu
kyke pinter memahami orang lain yahhaha
setelah chat ditutup, aku bertanya
dalam diriku “seandainya akhir ceritaku bisa seperti tulip putih dengan
saturnusnya” :’)
I walked through the door with you, the
air was cold,,
But something about it felt like home somehow,,
And I left my scarf there at your sister's house,,
And you still got it in your drawer even now,,
Oh, your sweet disposition and my wide-eyed gaze,,
We're singing in the car getting lost upstate,,
Autumn leaves falling down like pieces into place,,
And I can picture it after all these days,,
And I know it's long gone,,
And that magic's not here no more,,
And I might be okay,,
But I'm not fine at all,,
'Cause there we are again, on that little town street,,
You almost ran the red 'cause you were looking over me,,
Wind in my hair, I was there, I remember it all too well,,
Photo album on the counter, your cheeks were turning red,,
You used to be a little kid with glasses in a twin-size bed,,
Your mother's telling stories about you on the tee ball team,,
You tell me about your past, thinking your future was me,,
And I know it's long gone,,
And there was nothing else I could do,,
And I forget about you long enough,,
To forget why I needed to,,
'Cause there we are again, in the middle of the night,,
We dance around the kitchen in the refrigerator light,,
Down the stairs, I was there, I remember it all too well, yeah
Maybe we got lost in translation, maybe I asked for too much,,
And maybe this thing was a masterpiece 'til you tore it all up,,
Running scared, I was there, I remember it all too well,,
And you call me up again just to break me like a promise,,
So casually cruel in the name of being honest,,
I'm a crumpled up piece of paper lying here,,
'Cause I remember it all, all, all too well,,
Time won't fly, it's like I'm paralyzed by it,,
I'd like to be my old self again, but I'm still trying to find it,,
After plaid shirt days and nights when you made me your own,,
Now you mail back my things and I walk home alone,,
But you keep my old scarf from that very first week,,
'Cause it reminds you of innocence and it smells like me,,
You can't get rid of it 'cause you remember it all too well, yeah
'Cause there we are again, when I loved you so,,
Back before you lost the one real thing you've ever known,,
It was rare, I was there, I remember it all too well,,
Wind in my hair, you were there, you remember it all,,
Down the stairs, you were there, you remember it all,,
It was rare, I was there, I remember it all too well,,
But something about it felt like home somehow,,
And I left my scarf there at your sister's house,,
And you still got it in your drawer even now,,
Oh, your sweet disposition and my wide-eyed gaze,,
We're singing in the car getting lost upstate,,
Autumn leaves falling down like pieces into place,,
And I can picture it after all these days,,
And I know it's long gone,,
And that magic's not here no more,,
And I might be okay,,
But I'm not fine at all,,
'Cause there we are again, on that little town street,,
You almost ran the red 'cause you were looking over me,,
Wind in my hair, I was there, I remember it all too well,,
Photo album on the counter, your cheeks were turning red,,
You used to be a little kid with glasses in a twin-size bed,,
Your mother's telling stories about you on the tee ball team,,
You tell me about your past, thinking your future was me,,
And I know it's long gone,,
And there was nothing else I could do,,
And I forget about you long enough,,
To forget why I needed to,,
'Cause there we are again, in the middle of the night,,
We dance around the kitchen in the refrigerator light,,
Down the stairs, I was there, I remember it all too well, yeah
Maybe we got lost in translation, maybe I asked for too much,,
And maybe this thing was a masterpiece 'til you tore it all up,,
Running scared, I was there, I remember it all too well,,
And you call me up again just to break me like a promise,,
So casually cruel in the name of being honest,,
I'm a crumpled up piece of paper lying here,,
'Cause I remember it all, all, all too well,,
Time won't fly, it's like I'm paralyzed by it,,
I'd like to be my old self again, but I'm still trying to find it,,
After plaid shirt days and nights when you made me your own,,
Now you mail back my things and I walk home alone,,
But you keep my old scarf from that very first week,,
'Cause it reminds you of innocence and it smells like me,,
You can't get rid of it 'cause you remember it all too well, yeah
'Cause there we are again, when I loved you so,,
Back before you lost the one real thing you've ever known,,
It was rare, I was there, I remember it all too well,,
Wind in my hair, you were there, you remember it all,,
Down the stairs, you were there, you remember it all,,
It was rare, I was there, I remember it all too well,,
Walaupun aku masih berada dalam taman kacang merah,
ternyata aku masih dapat menemui senja disini. Satu hari tanpa senja itu
seperti kehilangan mahkota dandelion. Senja disini mewakili beberapa rasa,
mewakili selipan buku tersembunyi. Bagaimana jika dalam buku yang kau tulis
rapi, ternyata ada satu lembar kertas yang terselip. Mirip seseorang tak
terprediksi dalam suatu cerita. Kertas itu sadar ada dalam sebuah buku, begitu
juga pemeran tersembunyi itu. Dia sadar melangkah dalam ceritamu tapi kamu tak
pernah menyadari kehadirannya. Dia bersembunyi disetiap pohon-pohon bakau,
dibalik tirai gandum, dibawah bukit berbintang, disetiap untai ilalang,
mengalir bersama air hujan tak terlihat. Dia memperhatikanmu, dia mengerti
dirimu tanpa diminta. Selipan kertas tersebut terlalu banyak diskip dalam
sebuah cerita, meninggalkan kesan tersendiri bagi akhir cerita.
Sore itu bersama kacang-kacang merah Tuhan, aku
mempunyai satu permainan. Seperti memori kristal salju. Aku genggam kristal itu
dan kututup mataku. Tuhan pernah mengenalkanku dengan makhluk yang sangat
menyayangiNya. Selayaknya rumput-rumput biru disepanjang perjalanan, aku
belajar dari sikap baiknya. Dia itu bukan rumput biru, tapi rumput ungu, aku
bisa merasakan sikapnya berbeda kepadaku, namun aku selalu mengatakan itu
rumput, aku tidak pernah memperjelas “biru” atau “ungu”. Aku tidak memperjelas
karena aku tahu ada seseorang yang lebih pantas akan kesetiaannya kepada rumput
ungu. Aku tahu kertas yang terselip hanya pantas untuk orang yang memperhatikan
setiap lembar bukunya, bukan orang sepertiku yang jarang memilah setiap kertas
yang terselip.
Maka bagaimana kalau Tuhan mulai menumbuhkan kasih
sayang itu? Kasih sayang itu mulai bertumbuh ketika hanya rumput ungu yang
tersenyum ketika kau bernyanyi diantara semua rumput-rumput, menemani lelahnya
malammu dalam proyekmu, menghargai setiap tindakanmu, menunggu ramuan
terbaikmu,, maka mintalah Tuhan menjaga kasih sayangmu karena hanya Dia yang
Maha membolak-balikan perasaan.





