sastra uchi

121212

11.32

walaupun aku didalam planetku sendirian,,

kau tidak perlu khawatir,, 
karena disini sedang musim hujan,,
sehingga banyak ilalang tumbuh menemaniku,, 
bunga-bunga sakura juga mulai berguguran,,
menghiasi rumput-rumput disepanjang bukitku,,
kalau kau melewati satu-satunya pohon merah disini,,
lihatlah pohon merah itu,,
dan lihatlah pula ilalangilalang di depan radio tidar,,
aku selalu melihatnya ketika aku sendirian,,
mereka teman terbaik diakhir desember :)

sastra uchi

payung merah

00.08

Sore ini hujan kembali turun,, kembali mengingatkan 8 december 2012,,

Satu hari dibulan december,, dipadang dandelion,, diseluruh taman ilalang,,
Merajut dandelion,, rajutan mahkota dandelion yang selalu ingin kupakai,,
Aku berdiri cukup lama dengan gaun terindahku dihamparan taman ini,,
Matahari menghilang,, seperti biasa bulan menggantikannya,, dan aku tetap berdiri,,
Satu persatu air mulai turun,, setiap tetes hingga milyaran air menemaniku,,
Aku tetap berdiri,, aku tetap tersenyum dan aku tetap percaya,,
Bulan menunjukkan tepat pukul 8 malam,,
Pukul 8 malam aku melihat bintang biru itu melintasi planet lain,,
Tidak ada diplanet ini lagi sekarang,,
Dia tidak akan mengitari planet ini lagi sekarang,,
Di planet ini tidak akan ada lagi bintang biru,,

Aku terus menatap langit,,
Hari itu pertama kalinya aku mampu berdiri lama,,
Berdiri menemani hujan,, hujan deras dibulan desember dengan payung merah,,

Kulepaskan payung itu,, kulepakan sepatu karetku,,
Kupegang keduannya ditanganku,,
Aku berjalan bersama hujan,,
Aku menikmati malam terakhir dengan semua cerita dan kerajaanku,,
Cerita yang sepertinya hanya ada didongeng apakah benar cuma ada didongeng Tuhan?,,
Kututup bukuku,, buku yang telah menemaniku untuk sekian lama,,
Buku coklat tebal,, buku dongeng yang mungkin belum layak disebut cerita dongeng,,
History book page,,
Aku terus melangkah,, mencari dandelion terindah,,
Kuletakkan buku cerita itu disana,,

beautiful hello

writter

17.05

i have a day without checking the clock, or being interrupted, running errands that seem impossible to get to most of the time, it’s amazing enough,,



i go to places

dandelion december

16.47


Jogjakarta, 1 desember 2012 at 02.02 am aku masih berada dalam dandelion putihku. Disini terasa berbeda aku melalui ribuan bukit-bukit bersama angin topan yang kencang, sungguh tidak nyaman namun ini yang dinamakan perjuangan. Aku menyaksikan pagi yang lain,, pagi yang berbeda tak seperti biasanya. Aku melihat semua kemungkinan yang diciptakan Tuhan,, aku berada di tanah yang berbeda,, Jogja. Setelah hampir 6 tahun tidak mengunjungi tanah ini, akhirnya hari ini diizinkan kembali menapakkan kaki disana. Semuanya nampak berbeda,, jalanan panjang dan lebar,, pohon-pohon yang setia menemani jalanan,, aksara jawa disepanjang jalan,, ratusan becak,, taksi,, trans jogja,, fiuhh kota yang indah. Beberapa menit berjalan,, dan aku sampai di persingahan matahari yang indah. Kami beristirahat disana. Tempat peristirahatan yang begitu mewah bagiku. Aku tidak tahu bagaimana cara Tuhan menyayangiku,, namun siang itu untuk pertama kalinya aku melangkahkan kaki di universitas gadjah mada. Yup, universitas favoritku waktu aku menduduki bangku SMA.
Disana begitu berbeda dengan brawijaya,, disana banyak sekali tanaman-tanaman. Bahkan digerbangnyapun sudah disambut pohon bambu yang ditinggi. Kuteruskan langkah kakiku,, kudapatkan hal indah lainnya berjajar motor-motor dengan rapi tak mengganggu satu sama lainnya,, begitu juga sepeda tradisionalnya. Waw, kampus yang luar biasa :D. Sayangnya keindahan alam yang nyata tersebut, tidak didukung dengan SDM yang sesuai. Gedung-gedungnya lumayan kotor dan tua, hmm sekali lagi ada yang menarik. "mading fotografer farmasi”,, sebuah kotak berisikan foto-foto yang penuh pembacaan. Ada satu foto yang menarik,, dua orang dibawah payung saat hujan membawa kue,, sebenarnya biasa sih. Cuma maknanya lumayan tinggi,, kebanyakan orang akan melihat bahwa mereka kehujanan dan memakai payung,, padahal mereka merasakan betapa lebih enaknya nyamil saat hujan :p. Jadi sebenarnya hidup itu tidak berat pibi,, tergantung bagaimana cara pandang kita :D. Melangkah lagi hap hap hap,, dan akhirnya aku sampai di depan laboratorium curcumin “curcumin research centre” ,, waw waw waw... seolah engga percaya aku dapat berdiri di lab sekeren itu,, langsung ingat herbochi ^_^. 


Daun-daun melintas, waktu berjalan,, aku menduduki ruangan kompetisi. Ruangan putih multimedia dengan desain keintelegensian mahasiswa. Ruanganya begitu tenang dengan musik menyempurnakan kedamaian. Aku tersenyum menyaksikan semua kejaiban,, melihat teman-teman farmasi seindonesia,, kerajaan farmasi. Kompetisi dimulai dan kami mulai mengerjakan anyaman kesuksesan. Satu persatu rintangan kami lewati,, dan pertama kalinya kami melewatinya bersama-sama,, seperti kepiting memakai gaun putih didasar lautan begitu lucu,, dan kami tertawa. Pehliss uchi ini soalnya masih banyak,, putarlah jarum dalam kepala,, nyalakan semua lampion,, bersinarlah powerberry,, selesai. Kami meninggalkan ruangan itu,, menelusuri kota ini dengan lebih luas lagi,, kota pohon tinggi dengan jalanan luasnya J

Seperti dandelion mini becak ini,, kita sama-sama berjalan melihat pernak-pernik Tuhan. Aku melihat tenggelamnya matahari,, melajunya kereta,, letihnya tukang becak,, menyaksikan kota dengan setiap keringat lelahnya kehidupan,, “Tuhan hidup itu berat ya,, “ sepatah kata yang terucap,,seandainya aku tidak mempunyai dosa ingin cepat kembali kesisiMu Tuhan :’)

Malam itu kami menghabiskan ratusan detik di stassiun tugu,, berharap mendapatkan rahmat Tuhan lainnya. Menelusuri langkah-langkah kota ini,, bersinggah di emper untuk dua bungkus nasi kucing,, menghitung lintasan pesawat,, satu dua tiga empat lima enam,,dan tuju masih belum ada satu smspun terlintas. Okai Allah jika ini jawabanMu atas perjuangan kami,, kami akan tetap tersenyum,, kami tahu hanya Kaulah yang Maha mengetahui Maha Bijaksana. cheers :)

my personal life

cute alates :)

08.50

bagaimana saya menemukan bahagia ada adalah ketika kita berbagi tertawa tanpa perlu lagi apa dan siapa



" (florensia, 2012)
disaat banyak proyek seperti ini,, mempunyai 30 menit untuk membaca buku dan bermain dengan si sayap kecil ini membuat saya menyadari sekali lagi bahwa saya masih bodoh dan masih banyak yang harus dipelajari =)

It's about the journey, about us, not about the destination =)

sastra uchi

pohon lampion

06.42


Ketika kutemukan jalan itu,, jalan yang menghubungan samudra dengan padang ilalang,, segera kulepaskan seluruh air diseluruh tubuhku,, kupijakkan kakiku dipadang impian,, padang didasar samudra,, kuberlari meyakinkan hati bahwa ini benar-benar padang ilalang,, padang ilalang senja itu,, aku berteriak sekeras kebahagiaan yang mampu diungkapkan kepada alam,, aku benar merasakan jiwaku kembali bersamaku,,
Dalam waktu sepersekian detik,, kudapatkan malam menyapaku,, kurebahkan tubuhku diatas rumput-rumput padang,, kutatap jutaan bintang di atasku,, kuhubungkan satu bintang dengan bintang lainnya,, hingga aku berhenti di satu bintang,,bintang paling besar namun tidak berwarna kuning,, bukan bintang kejora,, bukan bintang yang banyak dikagumi orang,, bintang ini mempunyai jiwa tersediri,, bintang biru kecil dengan cahaya besarnya,, cahaya yang mampu menyinari bintang-bintang lain yang tidak mempunyai cahaya,, kunamakan bintang Pluto,, bukan planet Pluto namun bintang biru Pluto,,
Kuambil teropong dalam tasku,, kuatur dalam skala paling sempurna,, kupusatkan pandanganku,, ternyata benar itu bintang biru yang pernah kulihat beberapa bulan yang lalu,, masih tetap sama,, bintang Pluto biru,, kuletakkan teropongku dan kunikmati malam itu,, malam tersunyi dipadang ilalang dengan cahaya bintang,, kupejamkan sekali lagi mataku,, dengan seluruh cahaya ragaku terbang masih dengan posisi terlentang,, angin berkerjasama dengan cahaya membawaku terbang menuju bintang itu,, rambutku terurai dan aku menjadi sangat ringan,, aku sampai pada bintang itu,, aku menginjakkan kaki dibintang itu,, aku merasa seluruh jiwaku kini telah kembali,, aku bertanya kenapa tidak muncul dilangit berhari-hari,, kenapa? Kenapa cahayamu menghilang dalam hitungan hari,, kemana?,, mempelajari dunia lain?,, mepelajari lukisan Tuhan yang lain?,, dan bintang itu tetap diam,, bintang itu masih sama seperti padang ilalang,, pendiam,, pendengar yang sempurna,, aku menangis,, aku merasa sendiri,, aku meletakkan segala laraku disana malam itu,,
Seperti lampion diatas air,, kini aku berada diatas perahu ditengah lautan,, suara ombak dan burung jalak membangunkanku,, kubuka mataku,, aku lelah mendayung namun aku harus mendayung,, kudayung dengan jemariku berlahan demi berlahan hingga aku menemukan pohon lampion ditepi lautan,, aku beristirahat disana untuk sementara waktu,,