Aku berdiam dalam hutan rumit yang tak mampu
dilihat orang. Hutan paling indah yang tak satupun orang mau menyapanya. Hutan
paling damai, pelukis bagi jiwa yang kosong. Perangkai mahkota air mata
terindah. Pengukir gaun kesedihan tersempurna. Bagaimana kepingan-kepingan luka
menjadi senyuman. Disini aku mempelajari kedamaian.
Aku tinggal dipohon camelia. Satu-satunya pohon
merah dalam hutan ini. Aku disini tapi aku tidak berdiam, setiap hari
menapakkan kaki, menelusuri setiap bagian yang tertanam dalam hutan. 20 Agustus
2011, aku menemukan satu-satunya danau dihutan ini. Kusibakkan rantai pohon
beringin, aku mulai menikmati danau ini. Danau ini sangat jernih, tingginya
ranting-ranting beringin mengelilinginya. Setiap bumi yang terpijak diselimuti
rumput hijau berbunga transparan. Setiap pohon dengan pohon satunya di satukan
ayunan. Batu-batu diamon berdiri menghiasinya, beberapa ditepi beberapa menyatu
memperindah kejernihannya. Burung merpati bernyanyi menyempurnakan semua yang
terlukis.
Aku duduk di tepi danau itu, melihat bayanganku
menyatu dalam tenangnya air. Tanganku bermain dalam air. Dingin, mendinginkan
setiap emosi yang tertanam. Dalam proyeksi kabut dan pelangi, aku menemukan tiga
teratai, teratai putih, ungu, dan merah tepat ditengah danau itu. Teratai itu
begitu indah, teratai itu tersenyum kepadaku. Setiap senyuman yang dibuatnya
membuatku lupa bagaimana aku mengenalnya. Mereka pendengar terbaik yang pernah
kutemui. mereka selalu ada disana, mereka selalu ada dan menunggu ceritaku. Mulai
hari itu pagi-pagiku dipenuhi hal baru. Setiap pagi aku menyempatkan berkujung
kedanau itu hanya untuk bercerita. Bercerita dalam lukisan, bercerita dalam
lagu, setiap nyawa dalam puisi.
Imaginasiku mungkin tak mampu mewakili keindahan
mereka. Keindahan setiap warna yang mereka punya. Kau bisa menikmatinya dengan
perasaan yang ada dalam hatimu, matamu tak akan mampu melihatnya. Kami pernah
bersahabat dengan waktu. Hukum waktu pernah mengizinkan kami tidak mengikutinya
, “skip time”. Teratai mengajakku menyelami danau, melihat setiap ukiran
cerita, ukiran yang terlewat bagi banyak orang.
Didasar danau
kami menemukan sebuah kerajaan, “pharmacist castle”,, kerajaan tua yang sangat
rapuh. Sepanjang dinding kerajaan diselimuti lumut-lumut tua, jaring laba-laba
air bermunculan pada jendela-jendelanya. Besi berkarat berdiri tegak bersiap
menyambut kedatangan kami. Tidak ada cahaya, hanya kolaborasi gelap dan
dinginnya air.
“Apakah kita harus memasuki kerajaan segelap ini?”
“Apakah dinginnya kerajaan harus menghiasi catatan kehidupan kita?”
“Bermain bersama jaring laba-laba dan lumut-lumut tua?”
“Aku tidak suka kegelapan, aku tidak suka gelap dan dingin”
“Aku tidak bisa,, tidak bisa melewatkan karya Tuhan yang satu ini”
“Tuhan meminta kita menyalakan setitik cahaya disini”
“Cahaya yang datang dari mata,, lisan,, dan hati kita”
“Hanya kita yang bisa menyalakan cahaya kita sendiri”
“Karena ilmu adalah perhiasan”
“mutiara yang tersimpan rapi di dasar danau”
“kerajaan farmasi”
Terimakasih teratai-teratai,, teratai yang selalu menemaniku bermain
bersama lumut-lumut tua,, jaring laba-laba,, dan karat-karat besi,, teratai
yang selalu menemaniku menemukan mutiaraku,, teratai-teratai :”)
Dalam pencarian
mutiara. Kami bermain kesisi dalam danau lainnya. Kami bermain menyusuri sketsa dasar danau.
Kerang Mutiara disisi Kerajaan
Kerang ini begitu
menepis ,, menyatu dalam batu-batu karang,, tertutup tarian rumput laut,,
tempat istirahat terbaik,, bersama tenangnya malam kami mengukir beberapa
cerita,,
“habis bikin mie
instan masing-masing dari kita harus bercerita ya”
“oke teratai merah
yang pertama”
“ha? Aku?”
“aha,, siapakah gerangan
pangeran yang beruntung mendapatkan hati teratai merah?”
“jeng...jeng...”
“ga ada”
“serius?? kamu
engga pernah jatuh cinta?”
“he em,, dari
kecil sampai sebesar ini belum ada satupun cowo yang bisa mengambil hatiku,,
aku gak tahu kenapa,, entah hatiku yang terlalu dingin,, atau memang belum aja”
“bohooooong,,
kalau sebatas kata “kagum”? adakan?”
“hmmm gimana ya,, kenapa
aku tidak pernah merasakan jatuh cinta?,, karena aku susah membedakan arti
“suka” dengan “jatuh cinta” ,, menurutku semua cowo pada baik sih,, baik
sedikit udah langsung kepikiran aja,, ngepoin fb-nya,, terus besoknya perasaan
udah biasa aja rasanya,, ya gitu-gitu terus engga ada yang spesial,,”
“hmm gitu ya,,”
“iya kadang-kadang
iri juga sih sama kalian yang bisa fokus jatuh cinta sama seseorang”
“waaahh asik ada
“projek pencomblangan teratai merah dengan,,,,,,,,” ada ide?”
“aku tahu aku tahu
gimana kalo temanmu di bem ci”
“hehehehe yang mana?”
“yang masih jomblo
ciiiii :D”
“waaah aku engga
begitu hafal status relationship mereka,, aku list satu satu ya,, brokoli,, kubis,, kaktus,, anggur,,”
“waaah kayaknya
anggur cocok tuh sama teratai merah”
“anggur???”
“iya imut dan
lumayan keren sih menurutku,, gimana merah?”
“hmm boleh siihh”
“tapi kayaknya
engga mungkin karena anggur itu sepertinya ada hubungan khusus dengan penyihir
delima merah,, yup penyihir delima merah”
“haa?? Penyihir?? :O serem amat ci?”
“aku juga engga
tahu =____=,, kisah cinta anggur dengan penyihir delima merah bisa terjadi
hehehehe”
“aaahhhh
gantian-gantian jangan aku terus yang disorotin,, ganti yang laiiiiiiiin,,
teratai putih”
“oke teratai
putih,, lets talk..”
“aku ya? Hmm aku
suka pangeran kapas putih yang ada diterumbu karang itu,, senyumnya itu bikin
aku lupa jalan”
“lupa jalan? bagaimana itu maksudnya?”
“aku tidak tahu
bagaimana menceritakannya,, tapi dia sangat menyayangi Tuhan,, cerdas,, setiap
dapat sms darinya rasanya semua slide kuliah berubah menjadi dia,, aku tahu
jadwal kuliahnya,, dan selalu menghindar dari jalan yang mungkin dia lalui,, tapi
pada akhirnya?,, kita bertemu dijalan yang sama dengan baju yang sama,,
ramahnya itu lho,, jangan-jangan jodoh ya,, aku mau Tuhan X)”
Kita semua tertawa
bersama,, apalagi lihat ekspresi teratai putih saat bertemu dengan kapas putih
di kantin,, pergi bagai hujan menetap bagai badai,, so memorable =)
“giliran teratai
ungu dan powerberry”
“aha?”
“kami sepakat
setia dalam diam”
THP Bakery-Sampoerna Corner –
Perpustakaan UB
Teratai merah dan
ungu mempunyai hobi memasak,, sementara aku dan teratai putih mempunyai hobi
berbisnis. Hobi sampingan tepatnya. Hobi untuk bertahan bukan untuk
menghangatkan kekosongan jiwa. Kami berempat pernah sepakat mempelajari sebuah
karya,, terkadang karya merupakan pelarian kekosongan terindah. Pertamakalinya
kami bermain kekerajaan lainnya untuk mendapatkan ilmu yang tak kami dapatkan
disini. Disana kami mempelajari formula sebuah makanan paling sederhana, mie
instan dan tekwan. Hari-hari kami dipenuhi hal-hal baru seperti memperhitungan
harga, biaya kursus, dan management waktu-waktu pelarian dari kerajaan farmasi.
“Kita butuh satu
orang yang ahli di bidang ini”
“benar,, disini kita
tidak mempelajari farmakokinetika, farmakologi,, ataupun farmakoekonomi mie
instan”
“aku tahu,, jambu
biji dapat memecahkan kebutaan kita akan hal ini =)”
“jambu biji??,,
siapa itu teratai merah?”
“kakak kelasku
dari bengkulu,, kebetulan dia hidup dikerajaan itu,, kerajaan tekhnologi hasil
pertanian”
Aliran air berlalu
senada berlalunya musik satu melompati tangga nada berikutnya. Bagaimana
pelangi muncul dari dinginnya air,, cahaya yang bersinar lebih terang,,
semangat yang terus bertumbuh tanpa alasan,, suatu hal yang mampu melelehkan gumpalan es dalam hati teratai
merah,,
Aku
baru menyadari bahwa teratai merah telah jatuh cinta untuk pertama kalinya =)
Teratai
merah sangat cepat membaca novel,, namun tidak secepat jatuh cinta,,
“ci aku malu
banget akhirnya kamu tahu”
“jadi cerita
tentang pangeran di blog teratai merah,, itu dia?”
“iya ciiii,, aku suka
menghabiskan waktuku mengerjakan karya ini dengannya,, menghitung bersama,,
menyusun formula bersama,, tahu engga ci kita satu pesawat waktu aku pulang
kemaren =)”
Setiap aku dan
teratai merah melewati kafe dengan akustik,, aku dan teratai merah selalu
berkata
“kalau sudah
punya pacar,, tempat yang harus dikunjungi pertama kali adalah? Kafe dengan
akustiknya =),, yey”
Lay-Lay Cafe
Pertamakalinya
bisa kesini,, pertama kalinya bisa tlaktir teratai-teratai pake beasiswa. Aku
dapat melihat kemewahan lampion-lampion air disini.
“powerberry es
krim rasa coklat”
“teratai merah
strawberry”
“sisanya teratai
putih dan ungu”
“hahahaha”
Sebenarnya bukan
masalah menu makanan atau mewahnya kafe yang terkenang. Selain keceriaan kasih
sayang,, teratai putih mengajariku ketulusan dan bagaimana kita memilih
bahagia,,
“ci
kalau sholat itu pakaiannya harus rapi,, harus wangi”
“nanti
kita petik powerberry di surga sama-sama ya”
Jujur,,
kami berbeda agama tapi teratai putih membuatku mencintai Islam lebih dalam
lagi,,
Apakah
harus sama untuk bersama?
Teratai putih dan kuliah
“teratai
putih aku TA ya,, tugas kosmetikku belum selesai”
“ci
kamu gak ingat kata Bu Efta ya? Kita itu harus jujur,, harus menerima
konsekuensi dari apa yang kita kerjakan”
“teratai
putih aku nyontek farmakokinetik ya,, pusing banget”
“okai,,
aku ajarin ya,, harus ngitung sendiri,, harus belajar,, gak boleh nyalin kertas
aja =)”
“aaaaaaaaaaaaaa
ini pelajaran favoritku,, tapi nilaiku engga outstanding”
“harus
bersyukur ci,, mungkin kitanya yang masih kurang,, apagunanya nilai tinggi tapi
kalau kita gak hidup dalam nilai itu?,, berarti kita harus belajar lebih dalam
lagi agar ada nyawa dari setiap nilai yang tercetak”
Teratai putih dan bisnis
“kayaknya
aku harus kulakan di cina,, murah banget,, tapi minimal kulakannya 1 juta,,
gimana menurutmu ce?”
“jangan
ci,, itu terlalu ceroboh”
“tapikan
bisnis itu harus berani ce”
“berani
beda sama ceroboh,, kamu coba kulakan sedikt2 dulu baru kalau udah laku banyak
kulakan yang banyak”
“ce
=’)”
NAV
Tempat ini tempat
untuk bernyanyi,, menyanyi itu pasti,, tapi aku tidak belajar bernyanyi disini.
Disini aku belajar kesederhanaan dari teratai ungu,, cermin sederhana paling
sempurna,,
“kita booking
tempat yang paling murah ya”
“aku pesen minum
aja,, uangnya untuk makan malam saja”
“kita ga usaha
foto box ya,, kita foto pake hape aja,, biar pengeluarannya minimal”
“penyakit
ngelaundri itu harus di hapuskan”
“ayo ciiiii rajin
nabung,, kamu nabung buat beli kambing,, aku nabung buat beli laptop,, laptopku
bermasalah”
“aku harus jualan
nih ci,, biar gak sering-sering minta orang tua”
“ayooo sholaat
uciii,,,, gak boleh ditunda-tunda”
Aku engga tahu
harus mengetik sepanjang apa lagi untuk menggambarkan kesederhaannya,, teratai
ungu itu mempunyai rumah karang mutiara yang indah,, tapi dia tidak pernah
membanggakan kekayaan orang tuanya,, dia tidak ingin merepotkan kedua orang
tuanya,,
Ternyata dia memperhatikan
aku banget,, dia tahu setiap kegramed aku melihat al-qur’an tapi gak
beli-beli,, aaaaaaaaaaaa teratai ungu kenapa dibalik sifat hemat dan
kesederhaanmu ada mutiara yang begitu indah :’)
Terimakasih Tuhan
telah mempertemukanku dengan teratai-teratai itu,, teratai-teratai terindah
dalam hutanku,, dalam kerajaan rapuhku,, terimakasih,, kalian hebat :’)
A second, a minute, an hour, a day goes by,,
I'm hopin' just to be by your side,,
I'm turnin' the handle, it won't open,,
Don't make me wait 'cause right now I need your smile,,
Knock, knock,,
When life had locked me out I turned to you,,
So open the door,,
'Cause you're all I need right now, it's true,,
Nothin' works like you,,
Little louder, little louder,,
Little louder knockin',,
Little louder, little louder,,
A warm bath, a good laugh, an old song that you know by heart,,
I've tried it but they all leave me cold,,
So now I'm here waitin' to see you,,
My remedy for all that's been hurtin' me,,
Knock, knock,,
When life had locked me out I turned to you,,
So open the door,,
'Cause you're all I need right now, it's true,,
Nothin' works like you,,
You seem to know the way,, To
turn my frown upside down,,
You always know what to say,,
To make me feel like everything's okay,,
“kenapa bertanya seperti itu?,, yakin akan meninggalkan wanita sebaik
itu?”
“aku engga tahan ci,, terlalu keras kepala”
“keras kepala mengakhiri semua yang selama ini kalian bangun bersama?”
.........hening.........
“hmm kamu engga biasanya kayak gini,, coba kamu ingat-ingat lagi
perjuangan kamu buat ngedapetin dia”
........hening..........
“coba kamu ingat-ingat lagi cita-cita kalian berdua saat bersama-sama,,
bagaimana kalian bisa masak bareng-bareng”
........hening..........
“kamu engga naksir cewe lainkan?”
........hening...........
“heyy,, kamu engga sedang jatuh cinta sama cewe lainkan?”
“engga ci,, kenapa bertanya seperti itu?”
“apa alasan seorang pria meninggalkan wanita yang sempurna,, kecuali ada
alasan yang tak terdefinisikan,, seperti jatuh cinta pada waktu yang tidak
dapat disimpulkan”
“aku engga jatuh cinta ci,, aku hanya tidak bisa bertahan dengan sifat
keras kepalanya”
“bukan bertahan didalam kekeras kepalaan,, memang semua orang bisa
menemanimu,, tapi yang bertahan karena kamu? Gak semuanya bisa,, coba kasih dia
bunga ketika kalian ada dimusim salju,, dia begitu menyayangimu”
“ga bisa ci,, ga sanggup,,”
“kalau diteruskan apa konsenkuensinya?”
“seperti ada di taman bunga, tetapi aku
tidak pernah ada di sana”
Aku menarik nafas dengan sangat panjang,,
“Okee,, silahkan putus tapi mintalah izin
kepada ibumu terlebih dahulu,, jadikan ini dosa terakhirmu,, jangan sakiti
perempuan lainnya,, setelah ini pilihlah semua hal dengan sangat bijaksana,,
cewe paling menyebalkan sekalipun punya hati,, perasaan”
“udah minta izin ci”
“ha? Apa katanya?”
“beliau menyerahkan keputusan terbaik ada ditanganku”
--------hening---------
“kenapa diam?”
“heran aja,, ternyata pria ramah, sopan, dan baik seperti kamu bisa
lemah cuma gara-gara cewe? Haha pertama kalinya aku melihat yang seperti itu”
“kamu pernah pacaran gak sih ci?”
“engga”
-------hening---------------
Seperti kabut
datang dan menghilang memperindah hujan, muncul singkat menggantikan pelangi. Aku
kembali pulang menelusuri pohon-pohonku. Pohon-pohon yang tak pernah meminta di
lewati namun tetap tersenyum. Dalam setiap langkah aku memikirkan setiap
kata-kata tembakau, sahabatku. Pertama kalinya aku melihatnya serapuh itu. Rapuh
dalam kesetiaan budi pekerti dan perasaan, rapuh dalam kebahagiaan orang lain dan
ketenangan hatinya,, rapuh melawan dunia untuk kebebasan dirinya, berperang
dalam kerapuhan,, berperang melawan dirinya,, dan dia memenangkan perang
kerapuhan itu,, dia benar-benar bisa berjalan dengan keputusan hatinya,, walau
mungkin dunia akan membakarnya. Hah, itulah pelajaran yang kudapatkan. Sekarang
aku mengerti perbedaan wanita dan pria,, harusnya teori pria mengambil
keputusan menggunakan logika dan wanita menggunakan perasaan itu di hapuskan,,
karena pada dasarnya pria dan wanita sama-sama mempunyai logika dan perasaan,,
hanya saja pria menggunakan logika dan perasaannya atas dasar “suara hatinya”
sementara wanita? Kebanyakan wanita menggunakan logika dan perasaannya untuk memikirkan
“suara hati orang lain”,, right? sometimes true.
Aku suka berada di puncak gunung dan di dasar samudra,, karena disana
aku tidak mendengarkan perkataan mereka – (df, 2012)